Kolaborasi Pulihkan Terumbu Karang Botutonuo: Kisah Sukses Peneliti, Warga, dan Pemerintah
RADARGORONTALO.COM - Kerusakan terumbu karang merupakan ancaman serius bagi ekosistem laut, dan salah satu wilayah yang merasakan dampaknya adalah dasar laut di Desa Botutonuo, Kecamatan Kabila Bone, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo. Barrier Reef di area ini telah berubah menjadi patahan karang mati, kehilangan fungsinya sebagai habitat bagi ribuan biota laut akibat aktivitas manusia, pencemaran, dan perubahan iklim. Namun, kini situasi berangsur membaik, menandai pemulihan yang signifikan.
Situasi di perairan Botutonuo kini menunjukkan perubahan positif. Permukaan laut Barrier Reef kembali memantulkan warna biru yang sehat. Di bawahnya, ribuan karang muda mulai tumbuh subur di atas rangka baja heksagonal, sebuah hasil nyata dari upaya konservasi yang melibatkan kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan masyarakat pesisir.
Awal Mula Kerusakan dan Ancaman Laut Mati
Sebelum upaya pemulihan ini dilakukan, perairan Botutonuo kerap disebut sebagai "laut mati" oleh warga. Kondisi ini disebabkan oleh minimnya ikan yang terlihat berenang, indikasi kuat bahwa habitat laut telah kehilangan keseimbangannya. Kerusakan terumbu karang yang parah menjadi penyebab utama hilangnya fungsi ekologis laut tersebut.
Penyebab utama kerusakan ini bervariasi, mulai dari praktik penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan seperti pengeboman, pencemaran dari aktivitas darat, hingga dampak perubahan iklim global. Aktivitas manusia yang tidak berkelanjutan telah merusak struktur dan keanekaragaman hayati terumbu karang.
Titik Balik Pemulihan: Kolaborasi Intensif Dimulai
Kisah pemulihan Botutonuo bermula pada tahun 2018 ketika Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meluncurkan program nasional rehabilitasi terumbu karang. Provinsi Gorontalo, khususnya Kabupaten Bone Bolango, menjadi salah satu lokasi prioritas dalam program ini.
Prof. Dr. Femy Mahmud Sahami, S.Pi., M.Si., Kepala Pusat Kemaritiman LPPM Universitas Negeri Gorontalo (UNG), menjelaskan bahwa pemilihan Botutonuo didasari oleh kondisi karangnya yang sudah banyak rusak dan hilangnya populasi ikan. "Awalnya karang di situ sudah banyak rusak, dan menurut masyarakat memang tidak ada ikan lagi. Itu sebabnya kami memilih Botutonuo," ujar Prof. Femy pada Jumat (17/10/2025).
Metode Rehabilitasi dan Tantangan yang Dihadapi
Upaya rehabilitasi awal pada tahun 2018 menggunakan media balok beton yang ditempatkan di kedalaman tiga meter. Dalam waktu enam bulan, hasil positif mulai terlihat dengan meningkatnya jumlah individu dan spesies ikan, menandakan habitat mulai pulih.
Namun, tantangan muncul pada tahun 2020 akibat pandemi COVID-19 yang membatasi aktivitas lapangan. Banyak struktur beton tergeser arus, hanya menyisakan sekitar 30 persen fragmen karang yang mampu bertahan hidup. Tantangan semakin berat pada tahun 2021 ketika area rehabilitasi diserang bintang laut berduri (Acanthaster planci) dan sebagian area rusak akibat pembangunan dermaga.
Evolusi Metode: Dari Beton ke "Spider Reef Frame"
Menghadapi kendala tersebut, tim UNG bersama KLHK melakukan inovasi metode rehabilitasi. Pada tahun 2022, media rehabilitasi diganti menggunakan rangka baja heksagonal berbentuk jaring, yang dikenal sebagai "spider reef frame". Struktur ini dipilih karena lebih kuat menghadapi arus deras dan kondisi dasar laut yang berupa patahan karang (rubble).
Sebanyak 85 unit spider reef dipasang di area seluas 115 m². Pemantauan menunjukkan pertumbuhan rata-rata karang mencapai 1,72 cm dalam tiga bulan. Peningkatan signifikan pada kehadiran ikan karang menjadi indikator awal bahwa habitat laut mulai pulih.
Penelitian Lanjutan dan Pertumbuhan Karang Acropora
Penelitian lanjutan oleh mahasiswa UNG pada tahun 2023 mengidentifikasi dua jenis karang yang tumbuh dominan: Acropora tabulate (ACT) dan Acropora branching (ACB). Hasil observasi menunjukkan bahwa jenis tabulate memiliki pertumbuhan yang lebih cepat dan stabil.
Momentum pemulihan berlanjut pada tahun 2024 dengan penambahan 150 unit spider reef dan 1.050 fragmen karang Acropora. Pemantauan pada Juni dan Juli 2024 mencatat tingkat hidup 100 persen dengan pertumbuhan rata-rata 0,95 cm dalam dua bulan. Populasi ikan meningkat dari 704 menjadi 740 individu, mencakup 71 spesies dari 18 famili.
Sosok Kunci: Alinton Pisuna dan Semangat Konservasi
Di balik keberhasilan pemulihan perairan Botutonuo, sosok Alinton Pisuna, Ketua Kelompok Barrier Reef Botutonuo, memegang peranan penting. Ia menjadi motor penggerak utama dalam upaya konservasi ini, mendedikasikan akhir pekannya untuk memastikan kelangsungan hidup karang-karang muda.
Alinton terinspirasi oleh keindahan laut di masa kecilnya yang kini rusak akibat praktik yang merusak. Kesadaran ini mendorongnya untuk terlibat aktif sejak tahun 2017 dalam program transplantasi karang yang digagas oleh UNG dan KLHK. Ia memimpin timnya melakukan penanaman dan perawatan rutin, bahkan dengan peralatan sederhana.
Dedikasi Tanpa Henti dan Edukasi Generasi Muda
Meskipun sempat mengalami kegagalan akibat gelombang besar dan pengerukan dermaga yang menghancurkan ratusan meja karang, Alinton tidak pernah menyerah. Ia terus berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo serta akademisi untuk melanjutkan kegiatan konservasi.
Kelompoknya kini rutin melakukan pemantauan biofisik dan menggandeng sekolah-sekolah, seperti Brillikids Leadership Elementary School, untuk melibatkan anak-anak dalam penanaman karang. Ini menjadi bagian dari edukasi pentingnya laut bagi generasi muda.
Pengakuan dan Harapan untuk Masa Depan
Atas dedikasinya, Alinton Pisuna dianugerahi gelar "Local Hero Konservasi Laut" oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan pada tahun 2024. Penghargaan ini menjadikannya perwakilan pertama dari Gorontalo yang menerima apresiasi tersebut.
Alinton berharap laut Botutonuo dapat kembali seperti dulu, menjadi sumber penghidupan bagi nelayan dan tempat belajar bagi anak-anak. Program kolaboratif ini tidak hanya memulihkan ekosistem, tetapi juga menanamkan kesadaran lingkungan sejak dini.
Peran Pendidikan dalam Menjaga Kelestarian Laut
Sekolah seperti SD Brilli Kids Leadership Elementary School aktif terlibat dalam program ini. Kepala Sekolah, Ika Rahmawati Hadikum, percaya bahwa pengalaman nyata adalah kunci pembentukan kepemimpinan dan empati pada alam.
Melalui program ini, anak-anak tidak hanya belajar teori ekosistem laut dari dosen UNG, tetapi juga praktik langsung menanam bibit karang. Melihat karang hidup di bawah laut memberikan rasa bangga dan pemahaman bahwa menjaga alam adalah tindakan nyata, bukan sekadar wacana.
Program kolaboratif yang telah berjalan selama tiga tahun ini menjadi contoh keberhasilan sinergi antara sekolah, akademisi, dan masyarakat. Dari sinilah lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki kecintaan mendalam terhadap laut dan kepedulian terhadap lingkungan.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa penyebab utama kerusakan terumbu karang di Botutonuo sebelum program pemulihan?
Kerusakan terumbu karang di Botutonuo disebabkan oleh aktivitas manusia seperti pengeboman dan penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, pencemaran, serta dampak perubahan iklim.
Siapa saja pihak yang berkolaborasi dalam upaya pemulihan terumbu karang di Botutonuo?
Upaya pemulihan terumbu karang di Botutonuo melibatkan kolaborasi antara peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG), pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dan Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Gorontalo, serta masyarakat pesisir setempat, khususnya Kelompok Barrier Reef Botutonuo.
Metode apa yang digunakan dalam program rehabilitasi terumbu karang di Botutonuo?
Metode rehabilitasi berevolusi dari penggunaan balok beton pada awalnya, menjadi rangka baja heksagonal berbentuk jaring (spider reef frame) yang lebih efektif dalam menghadapi kondisi laut yang menantang.
Bagaimana peran Alinton Pisuna dalam konservasi terumbu karang Botutonuo?
Alinton Pisuna, sebagai Ketua Kelompok Barrier Reef Botutonuo, adalah motor penggerak utama konservasi. Ia memimpin timnya dalam perawatan rutin, penanaman karang, dan koordinasi dengan berbagai pihak, terinspirasi oleh kondisi laut di masa lalu.
Apa manfaat keterlibatan sekolah dalam program konservasi ini?
Keterlibatan sekolah seperti SD Brilli Kids Leadership Elementary School bertujuan untuk edukasi lingkungan sejak dini. Anak-anak belajar tentang ekosistem laut dan praktik langsung menanam karang, menumbuhkan rasa cinta laut dan kepedulian terhadap alam.
Ditulis oleh: Siti Aminah

Posting Komentar