BKOW Gelar Seminar Pakaian Adat: Lestarikan Warisan Budaya Gorontalo
RADARGORONTALO.COM - Gorontalo – Badan Kerjasama Organisasi Wanita (BKOW) Provinsi Gorontalo baru-baru ini menyelenggarakan sebuah seminar pakaian adat yang bertujuan untuk melestarikan dan memperkenalkan kembali kekayaan budaya Gorontalo. Acara yang bertempat di Hotel Damhil, Kota Gorontalo, ini menjadi wadah penting bagi pemahaman mendalam mengenai busana tradisional yang kaya makna.
Kegiatan ini digagas sebagai respons terhadap fenomena maraknya kreasi pakaian adat yang terkadang menyimpang dari kaidah aslinya. BKOW melihat perlunya edukasi yang tepat agar keaslian warisan leluhur tetap terjaga di tengah perkembangan zaman.
Seminar tidak hanya diikuti oleh anggota BKOW, tetapi juga secara khusus mengundang para pelaku usaha di bidang peminjaman baju adat se-Provinsi Gorontalo. Langkah ini diambil guna memastikan bahwa para penyedia jasa busana adat memiliki pemahaman yang komprehensif mengenai standar dan aturan pemakaian yang benar.
Ketua BKOW Provinsi Gorontalo, Nurinda Rahim, dalam sambutannya menekankan urgensi kegiatan ini. Ia menyatakan bahwa tujuan utama dari seminar ini adalah untuk memperkenalkan kembali baju adat Gorontalo sesuai dengan adat istiadat yang berlaku, bukan sekadar busana semata.
"Gorontalo adalah daerah yang kental dengan nilai adatnya, dan saat ini BKOW berupaya keras untuk menjaga kelestarian adat tersebut. Salah satu upaya konkretnya adalah melalui penyelenggaraan seminar pakaian adat seperti yang kita laksanakan hari ini," ujar Nurinda Rahim.
Seminar ini menghadirkan dua narasumber terkemuka yang memiliki kepakaran di bidangnya. H. Karim T. Laiya, yang dikenal sebagai Bate Lo Hulonthalo Lo O Lo Opo, memberikan perspektif mendalam dari sisi adat. Sementara itu, Hj. Nurmin Mertosono hadir sebagai pelaku adat yang berbagi pengalaman praktis di lapangan.
Rincian Pakaian Adat Gorontalo dalam Seminar
Prof. Dr. Astin Lukum, M.Si., selaku Ketua Bidang Sosial, Seni, dan Budaya BKOW Provinsi Gorontalo, merangkum hasil-hasil penting dari seminar tersebut. Rangkuman ini mencakup klasifikasi dan penjelasan detail mengenai berbagai jenis pakaian adat Gorontalo, baik untuk pria maupun wanita, serta pakaian dalam acara-acara khusus.
Pakaian Adat Wanita
Dalam sesi pembahasan pakaian adat wanita, beberapa nama pakaian dikenalkan beserta fungsinya. Biliu, misalnya, dipakai oleh pengantin setelah upacara Akaji dan umumnya hanya dikenakan oleh kalangan olongia (bangsawan). Busana Hamsey diperuntukkan bagi pengantin wanita pada acara Tidi lo Polopalo dan sekaligus menandai Mopo Tilandahu.
Selanjutnya, Madipungu dijelaskan sebagai pakaian yang dikenakan dengan atasan pendek (beat) dan kecubu dada pendek. Busana Pasanga, yang tidak menggunakan kecubu, dipakai saat acara Mopadutaa to Pingge dalam rangkaian Momuhutu. Sementara itu, Wolimomo merupakan pakaian yang dikenakan pengantin wanita pada saat upacara Akaji.
Terakhir untuk kategori wanita, Galenggo disebutkan sebagai pakaian yang digunakan oleh para mbui-mbui (penari atau pendamping) pada acara adat hajatan. Setiap pakaian ini memiliki makna dan konteks pemakaian yang spesifik.
Pakaian Adat Pria
Untuk kaum pria, seminar juga menguraikan berbagai jenis pakaian adat. Paluwala adalah salah satu pakaian yang dipasangkan dengan Biliu. Payungo Tilabatayila digunakan pria untuk acara khitanan dan Akaji, menunjukkan kesakralan momen tersebut.
Jenis Takowa Daa memiliki ciri khas sarung yang dikenakan di dalam kemeja dan secara historis digunakan oleh para pembesar negeri atau tatomboluwo. Berbeda dengan Takowa Daa, Takowa Kiki menampilkan sarung yang dikenakan di atas kemeja. Terakhir, Boo Kiki adalah baju koko yang menjadi pasangan dari busana Galenggo.
Pakaian untuk Acara Khusus dan Duka
Acara Tolobalango dan Dutu juga menjadi fokus pembahasan. Untuk Pohalaa Hulonthalo, pakaian yang dikenakan adalah Ibu-ibu bide-bide lo Bate dan wuloto palipa. Sementara itu, untuk Pohalaa Limutu, dikenakan Ibu-ibu bide-bide lo Palipa dan wuloto bate, menunjukkan perbedaan detail adat antara kedua wilayah.
Pakaian duka atau Tilahu’a memiliki tiga tahapan warna yang berbeda makna. Moputio (putih) dikenakan mulai hari pertama hingga ke-39 masa duka. Warna biru, yang melambangkan kejauhan seperti langit dan kedalaman seperti lautan, dikenakan pada hari ke-40. Terakhir, Moyitomo (hitam madelo Ayopa) dikenakan pada hari ke-100.
Warna dan Prinsip Adat
Pada acara suka atau hajatan, warna pakaian adat yang digunakan adalah Tilabatayila, mencakup warna merah, kuning, hijau, dan ungu. Hal ini menunjukkan keceriaan dan kemeriahan suasana. Lebih lanjut, seminar menegaskan bahwa prinsip adat yang utama adalah penggunaan bahasa daerah Gorontalo dalam setiap interaksi terkait upacara adat.
Terdapat tiga Payu utama dalam sistem adat Gorontalo, yaitu Hulunthalo, Limutu, dan Suwawa. Hulonthalo sendiri terdiri dari empat pohalaa, begitu pula dengan Limutu yang juga terdiri dari empat pohalaa, menunjukkan struktur sosial dan budaya yang terorganisir.
Sejarah dan Pengakuan Adat Gorontalo
Rangkaian adat istiadat di Gorontalo telah ada sejak abad ke-16, diwariskan oleh para leluhur melalui ilham dan petunjuk gaib. Seluruh proses adat ini telah disumpah untuk kedua negeri, Hulonthalo dan Limutu, dan mendapat pengakuan nasional. Gorontalo diakui sebagai daerah adat ke-9 di Indonesia, menjadikannya aset kekayaan budaya nusantara yang tak ternilai.
Sebuah ungkapan adat yang mendalam juga dibagikan: "Taluhu Taluhu Ito Eya, Dupoto Dupoto Ito Eya, Tulu Tulu Ito Eya, Huta Huta Ito Eya, Tawu Tawu Ito Eya, Bo japohutuwa suka-suka, Adati madili-dilito, Bolo Mo po ayito wawu mopo dembingo." Ungkapan ini menggarisbawahi pentingnya menjaga keharmonisan dan tidak mengubah tatanan adat.
Menutup rangkumannya, Prof. Astin Lukum menegaskan kembali pentingnya peran serta masyarakat. "Kewajiban kita selaku masyarakat Gorontalo adalah untuk melestarikan dan tidak merubah apa yang sudah menjadi ketentuan adat leluhur Hulonthalo - Limutu," tuturnya, menggarisbawahi tanggung jawab kolektif dalam menjaga warisan berharga ini.
Seminar yang diselenggarakan BKOW ini tidak hanya menjadi ajang edukasi, tetapi juga seruan untuk menjaga identitas budaya Gorontalo agar tetap lestari bagi generasi mendatang. Perhatian terhadap detail pakaian adat mencerminkan penghargaan yang mendalam terhadap sejarah dan kearifan lokal.
(IP-02)
Posting Komentar