Harga Perak Antam Terbaru 2026: Nilai Investasi Merosot Rp1.150 per Gram
RADARGORONTALO.COM - Jakarta – Harga perak batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) mengalami penurunan signifikan pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026. Nilai perak Antam merosot Rp1.150 per gram menjadi Rp48.600, setelah sebelumnya bertahan di Rp49.750.
Perbedaan Arah Pasar Domestik dan Global
Meski harga perak Antam di pasar domestik tertekan, perak global justru mencatatkan kenaikan 1,42% ke US$73,71 per ounce. Pergerakan ini tidak sejalan dengan tren harga di dalam negeri dan menjadi perhatian investor logam mulia di Indonesia.
Antam melalui situs logammulia.com mengumumkan harga jual perak batangan ukuran 250 gram sebesar Rp12.675.000 dan 500 gram Rp24.425.000. Produk perak butiran kadar 99,95% juga masih tersedia untuk kebutuhan investasi.
Faktor Geopolitik dan Suku Bunga Global
Tekanan harga perak sebelumnya disebabkan ekspektasi bank sentral menaikkan suku bunga untuk meredam inflasi akibat krisis energi. Konflik AS-Iran yang melibatkan Bahrain dan Kuwait mengancam distribusi energi melalui Selat Hormuz.
Presiden Federal Reserve Cleveland, Beth Hammack, memberikan sinyal bahwa kenaikan suku bunga AS bisa segera terjadi jika inflasi terus merangkak naik. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat di masa depan.
Dampak Penguatan Dolar AS
Indeks dolar AS terus menguat untuk sesi ketiga berturut-turut, membebani harga emas dan perak global. Menurut David Meger, Direktur Perdagangan Logam High Ridge Futures, penguatan dolar membuat logam mulia lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Emas di pasar spot juga turun hampir 1% ke US$4.440,27 per ounce pada Rabu (3/6/2026). Kontrak berjangka emas AS terkoreksi 1,1% ke US$4.468,60.
Data Ketenagakerjaan Jadi Penentu
Pelaku pasar menantikan rilis data non-farm payrolls AS pada Jumat sebagai indikator arah kebijakan moneter. Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of New York, John Williams, menyatakan belum melihat urgensi mengubah suku bunga jangka pendek.
Secara umum, nilai logam mulia dipengaruhi variabel seperti permintaan industri, cadangan bank sentral, dan fluktuasi kurs. Emas sering dianggap safe haven saat inflasi tinggi, namun daya tariknya menurun ketika suku bunga naik karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Investor kini mencermati data penggajian swasta AS yang dilaporkan meningkat di atas perkiraan. Hasil evaluasi data ekonomi ini akan menentukan prospek investasi perak dan emas ke depan.

Posting Komentar