'The Mullahs' Team': Polemik dan Loyalitas Terbelah Pendukung Iran di Piala Dunia
RADARGORONTALO.COM - Kampanye Piala Dunia tim nasional Iran yang berlangsung di Los Angeles baru-baru ini dimulai di tengah sorotan tajam dan kontroversi yang memanas. Pertandingan yang seharusnya menjadi ajang perayaan olahraga berubah menjadi arena protes ketika ratusan demonstran berkumpul di sekitar SoFi Stadium untuk menentang kehadiran tim tersebut.
Banyak pengunjuk rasa secara vokal menyuarakan pandangan mereka, menganggap skuad sepak bola nasional Iran bukan lagi representasi rakyat, melainkan alat bagi pemerintah ekstremis di Teheran. Suasana di luar stadion sangat kontras dengan semangat olahraga yang biasanya menyelimuti perhelatan Piala Dunia di seluruh dunia.
Protes yang berlangsung cukup riuh menyambut para penggemar yang berdatangan ke SoFi Stadium di Los Angeles. Para demonstran terlihat mengibarkan bendera pra-revolusi, sebuah simbol yang sangat dibenci oleh para pemimpin republik Islam saat ini.
Ava Amin, seorang mahasiswa filsafat yang hadir dalam aksi tersebut, dengan tegas menyatakan posisinya di balik spanduk bertuliskan seruan untuk "perubahan rezim." Ia menegaskan bahwa tim ini bukanlah tim rakyat Iran, melainkan tim milik rezim yang berkuasa.
Lebih lanjut, ia menyoroti sikap diam tim sepak bola nasional terhadap isu-isu krusial di dalam negeri. "Ketika rakyat dibunuh, mereka mengabaikannya dan tetap diam," ungkapnya kepada para wartawan.
Tehrangeles dan Dinamika Diaspora
Secara teoretis, komunitas Iran yang besar di Los Angeles—yang sering dijuluki sebagai "Tehrangeles"—seharusnya membuat tim nasional Iran, yang dikenal sebagai "Team Melli," merasa seperti bermain di kandang sendiri. Namun, realitas yang terjadi justru jauh dari harapan akan dukungan penuh yang hangat.
Sebagian besar diaspora di California secara keras menentang republik Islam dan bertekad memanfaatkan perhatian global selama Piala Dunia untuk menyoroti berbagai pelanggaran hak asasi manusia. Mereka menuduh para ulama yang didukung militer, yang telah memegang kekuasaan selama 47 tahun, bertanggung jawab atas penderitaan rakyat.
Gilbert Gastin, seorang warga Iran-Amerika yang telah hidup dalam pengasingan selama dua dekade, memberikan sentimen yang mewakili banyak demonstran di sana. "Ini adalah tim mullah, jadi kami tidak bisa mendukung mereka," tegas pria berusia 44 tahun tersebut.
Sebagai pekerja konstruksi, Gastin hadir untuk memprotes tindakan keras berdarah terhadap demonstrasi populer di Iran yang terjadi pada bulan Januari lalu. Tindakan brutal tersebut, menurut berbagai organisasi non-pemerintah (NGO), telah mengakibatkan ribuan orang kehilangan nyawa.
Simbolisme Bendera dan Perlawanan
Pakaian yang dikenakan Gastin saat aksi protes mencerminkan identitas sejarah yang ingin mereka pertahankan. Ia mengenakan kaus bergambar bendera pra-revolusi, dengan garis horizontal hijau, putih, dan merah yang dilapisi simbol matahari dan singa.
"Rezim ini telah membunuh begitu banyak orang selama 47 tahun, kami di sini untuk mengingatkan semua orang bahwa Iran membutuhkan demokrasi," ujar Gastin dengan nada penuh emosional. Bendera tersebut dianggap tidak dapat diterima oleh Teheran, yang bahkan sempat mengancam akan menghentikan pertandingan jika bendera tersebut dibawa masuk ke dalam stadion.
Meskipun FIFA memiliki peraturan ketat yang melarang simbol-simbol politik di dalam stadion, banyak penggemar tetap nekat membawa bendera tersebut. Berdasarkan laporan beberapa jurnalis, para penggemar tidak berusaha menyembunyikan simbol-simbol perlawanan mereka, termasuk kaus protes yang dikenakan.
Di dalam stadion yang berkapasitas 70.000 kursi tersebut, situasi sempat memanas meski ada intervensi dari pihak keamanan. Meskipun beberapa petugas meminta penonton untuk menyimpan spanduk atau menghadapi risiko pengusiran, ratusan simbol perlawanan tetap terlihat berkibar sepanjang pertandingan.
Olahraga Versus Politik: Sebuah Dilema Etis
Atmosfer di dalam stadion menjadi cerminan dari perpecahan yang mendalam di kalangan pendukung Iran. Saat lagu kebangsaan Iran dikumandangkan, suara ejekan bercampur dengan sorak-sorai, menciptakan situasi yang mengingatkan banyak orang pada kejadian di Qatar tahun 2022.
Pada Piala Dunia Qatar tahun 2022, situasi serupa terjadi beberapa bulan setelah penindasan berdarah terhadap protes yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini. Amini meninggal setelah ditangkap karena diduga mengenakan jilbab secara tidak benar, sebuah insiden yang memicu kemarahan global.
Namun, di tengah gelombang protes, ada pula penggemar yang memilih untuk tetap mendukung tim nasional mereka. Farideh Mansoor, seorang pemilik bisnis yang tinggal di San Diego, mengungkapkan kesedihannya atas suasana yang terpolarisasi tersebut.
"Para pemain sudah melakukan segalanya untuk sampai ke sini," ujar Mansoor kepada media. Ia berpendapat bahwa terlepas dari situasi politik, para atlet harus tetap mendapatkan dukungan karena mereka hanyalah atlet.
"Itu adalah olahraga! Ini bukan sesuatu yang politis," tambah wanita Iran-Amerika yang telah pindah ke Amerika Serikat 35 tahun lalu tersebut. Pandangannya mewakili kelompok yang percaya bahwa memisahkan olahraga dari isu geopolitik adalah jalan terbaik untuk menghargai perjuangan para atlet.
Latar Belakang Geopolitik yang Membayangi
Kontroversi yang menyelimuti skuad Iran di Piala Dunia bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan bertumpuk di atas ketegangan regional yang intens. Turnamen ini, yang diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, menjadi panggung bagi berbagai drama politik internasional.
Pada akhir Februari, pasukan Amerika Serikat dan Israel meluncurkan serangan terhadap Iran, yang kemudian membalas dengan menyerang sekutu Amerika di kawasan Teluk. Tindakan tersebut mengakibatkan terganggunya jalur di Selat Hormuz, yang berdampak pada pasokan minyak dan mengguncang ekonomi global.
Harapan muncul ketika pada hari Minggu, Washington dan Teheran mengumumkan kerangka kesepakatan untuk mengakhiri perang. Namun, partisipasi tim Iran dalam Piala Dunia telah telanjur terbayangi oleh permusuhan yang terjadi selama berbulan-bulan.
Rencana awal untuk menempatkan kamp pelatihan tim di Arizona terpaksa dibatalkan dan dipindahkan ke Tijuana, tepat di seberang perbatasan Meksiko. Selain itu, lebih dari selusin ofisial tim dan staf pendukung ditolak visanya oleh otoritas Amerika Serikat, menambah hambatan logistik bagi tim.
Pandangan dari Sudut Pandang Pengunjuk Rasa
Hamid Parvizi, seorang akuntan berusia 34 tahun, mengakui bahwa situasi ini sangat sulit bagi para pemain, namun ia tetap memilih untuk memprotes. "Tidak mudah bagi mereka," akunya mengenai kesulitan yang dihadapi skuad tim nasional.
Meski ia mengaku ingin mendukung tim nasional, Parvizi merasa mustahil untuk memisahkan olahraga dari realitas politik Iran saat ini. Ia menyoroti bahwa skuad datang ke Tijuana dengan mengenakan pin untuk memperingati korban serangan di sekolah Iran selama perang.
Kecurigaan bahwa politik juga memengaruhi pemilihan pemain menjadi poin krusial bagi banyak pengkritik. Parvizi secara khusus menyesalkan absennya Sardar Azmoun, pencetak gol terbanyak ketiga sepanjang masa Iran, dari skuad.
Banyak yang meyakini bahwa Azmoun dicoret dari tim karena unggahan media sosialnya yang dianggap menyinggung Teheran. "Dengan hal-hal seperti itu terjadi, saya tidak bisa memercayai tim itu," pungkas Parvizi, merangkum skeptisisme yang dirasakan oleh sebagian besar diaspora Iran di luar negeri.
Posting Komentar