Harga Pertamax Naik, Konsumsi Pertalite Melonjak 9,4 Persen di Juli 2026
RADARGORONTALO.COM - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax, telah memicu perubahan perilaku konsumen yang signifikan di seluruh Indonesia. Kondisi ini membuat para pengguna kendaraan kini lebih memilih beralih ke Pertalite yang dinilai memiliki harga lebih terjangkau.
Perubahan pola konsumsi ini tercermin dari data penggunaan BBM RON 90 Pertamina yang mengalami kenaikan tajam dibandingkan periode sebelumnya. Lonjakan permintaan tersebut terjadi tidak lama setelah pemerintah dan pihak terkait melakukan penyesuaian harga BBM nonsubsidi di tanah air.
Dampak Kenaikan Harga terhadap Preferensi Konsumen
Penyesuaian harga BBM nonsubsidi tersebut tergolong cukup signifikan bagi masyarakat pengguna kendaraan pribadi. Jika sebelumnya harga dibanderol di kisaran Rp 12.000-an per liter, maka per 10 Juni 2026, harganya melonjak tembus hingga Rp 16.250 per liter.
Bahkan di beberapa wilayah tertentu, harga jual BBM tersebut dilaporkan mencapai Rp 17.000-an per liter di tingkat pengecer atau SPBU. Kondisi harga yang tinggi ini akhirnya mendorong arus perpindahan konsumen dari Pertamax cs ke Pertalite secara masif.
Lonjakan Konsumsi Pertalite di Bulan Juli
Director of Regional Marketing at PT Pertamina Patra Niaga Subholding Commercial & Trading, Eko Ricky Susanto, memberikan konfirmasi mengenai tren perubahan ini. Ia menjelaskan bahwa telah terjadi peningkatan konsumsi Pertalite hampir 9,4 persen khusus pada bulan Juli saja dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII.
Data internal perusahaan menunjukkan pergeseran komposisi yang cukup kontras antara BBM nonsubsidi dan BBM bersubsidi (PSO). Sebelum adanya kenaikan harga, konsumsi Pertamax tercatat mencapai 23,2 persen, sementara Pertalite berada di angka 75,4 persen.
Namun setelah harga BBM RON 92 tersebut naik, komposisi konsumsi Pertamax mengalami kemerosotan yang cukup dalam. Sebaliknya, komposisi Pertalite justru melonjak naik hingga mencapai 80,3 persen dari total konsumsi BBM secara keseluruhan.
Pergeseran Komposisi Produk BBM Lainnya
Selain Pertalite, tren pergeseran konsumsi juga terpantau pada produk BBM jenis lainnya, termasuk untuk sektor industri. Komposisi Biosolar tercatat mengalami peningkatan menjadi 94,2 persen, naik dari posisi sebelumnya yang berada di angka 93 persen.
Di sisi lain, produk BBM jenis Dexlite dan Pertamina Dex justru mengalami penurunan tingkat konsumsi sebesar 6,4 persen. Penurunan tersebut dihitung berdasarkan perbandingan dengan konsumsi rata-rata normal harian yang biasanya terjadi.
Eko menjelaskan bahwa meningkatnya komposisi penggunaan Biosolar disebabkan oleh perpindahan preferensi kendaraan industri ke BBM subsidi. Fenomena beralihnya sektor industri ini memberikan dampak langsung pada volume penjualan seri Dex yang mengalami penurunan hampir 6,4 persen.
Stabilitas Stok di Tengah Perubahan Permintaan
Meskipun terjadi lonjakan permintaan yang cukup besar pada BBM jenis Pertalite, Pertamina memastikan bahwa pasokan tetap terjaga dengan baik. Stok Pertalite diklaim masih dalam kondisi terkendali dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di berbagai daerah.
Perusahaan terus memantau dinamika pasar untuk memastikan tidak terjadi kelangkaan di tingkat SPBU meskipun ada pergeseran konsumsi. Manajemen berkomitmen untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah fluktuasi harga energi global dan perilaku konsumen yang berubah.
Hingga saat ini, pihak otoritas terus melakukan evaluasi terkait kebijakan penyaluran BBM agar tepat sasaran bagi masyarakat yang membutuhkan. Kestabilan distribusi menjadi prioritas utama guna mengantisipasi kelanjutan tren perpindahan konsumen ke BBM jenis PSO tersebut.

Posting Komentar