Pertamina Ungkap Pergeseran Konsumsi BBM: Mengapa Konsumen Beralih ke Pertalite?
RADARGORONTALO.COM - PT Pertamina Patra Niaga baru saja merilis laporan penting mengenai dinamika konsumsi energi nasional yang terjadi sepanjang tahun 2026. Data terbaru menunjukkan adanya lonjakan signifikan pada penggunaan BBM subsidi, yakni Pertalite dan Biosolar, di berbagai wilayah di Indonesia.
Fenomena ini terpantau terjadi tepat setelah adanya kebijakan penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang diberlakukan sejak April 2026. Perubahan perilaku konsumen ini kini merata di hampir seluruh wilayah operasional Pertamina di tanah air.
Fenomena Pergeseran Konsumsi BBM Subsidi
Director of Regional Marketing PT Pertamina Patra Niaga, Eko Ricky Susanto, memberikan keterangan resmi terkait kondisi ini dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI. Ia menegaskan bahwa tren pergeseran konsumsi telah terlihat jelas sejak penyesuaian harga BBM nonsubsidi pada 18 April 2026.
Eko memaparkan bahwa pada Juni 2026, konsumsi BBM bersubsidi tercatat mengalami kenaikan tajam hingga 9,4 persen dibandingkan periode sebelumnya. Angka tersebut menjadi indikator utama bagaimana masyarakat mulai merespons kebijakan penyesuaian harga di pasar.
Tren beralih ke Pertalite menjadi bukti nyata perubahan pola konsumsi masyarakat untuk kendaraan bensin. Selama periode Januari hingga Mei 2026, porsi Pertalite awalnya berada di angka 75 persen dari total konsumsi.
Namun, setelah penyesuaian harga berlaku, porsi tersebut melonjak signifikan hingga menyentuh angka 80 persen. Artinya, sekitar 5 persen konsumen beralih dari BBM nonsubsidi ke pilihan subsidi yang lebih terjangkau.
Dampak Terhadap Penjualan Pertamax dan Dex Series
Fenomena migrasi konsumen ini berdampak langsung pada kinerja penjualan produk BBM nonsubsidi, khususnya Pertamax Series. Pertamina mencatat adanya penurunan volume penjualan produk tersebut hingga mencapai 18 persen dibandingkan periode sebelumnya.
Tidak hanya di segmen bensin, sektor gasoil juga menunjukkan pola perubahan serupa yang cukup menonjol. Konsumsi Biosolar melonjak tajam hingga 13,9 persen pada Juli 2026, sementara penggunaan gasoil secara umum naik tipis 1,5 persen.
Eko Ricky Susanto menambahkan bahwa pergeseran ini bukan semata-mata dilakukan oleh pengguna kendaraan pribadi. Sejumlah sektor industri juga terindikasi mulai beralih mengisi bahan bakar Biosolar di jaringan SPBU.
Hal ini sejalan dengan penurunan konsumsi produk Dexlite dan Pertamina Dex yang tercatat sekitar 6,4 persen. Penurunan tersebut menjadi sinyal bahwa disparitas harga menjadi faktor penentu utama perilaku pasar saat ini.
Langkah Strategis Pertamina Menjaga Pasokan
Menghadapi lonjakan permintaan yang tak terduga, Pertamina kini fokus pada penyesuaian operasi distribusi di lapangan. Perusahaan melakukan langkah strategis untuk memperkuat stok BBM di jaringan SPBU agar pasokan tetap aman dan terjaga bagi masyarakat.
Langkah preventif ini dilakukan hampir di seluruh provinsi selama periode April hingga Juli 2026. Tujuannya adalah memastikan masyarakat tidak mengalami kendala saat hendak mengisi bahan bakar di SPBU terdekat.
Daftar Harga BBM Pertamina Terbaru
Sebagai referensi bagi masyarakat, berikut adalah rincian harga BBM Pertamina di wilayah Jabodetabek per 1 Juli 2026. Harga ini menjadi salah satu faktor kunci yang memengaruhi keputusan konsumen dalam memilih jenis bahan bakar.
Harga Solar subsidi tercatat berada di angka Rp 6.800 per liter, sementara Pertalite dijual seharga Rp 10.000 per liter. Untuk jenis nonsubsidi, Pertamax dipatok Rp 16.250, Pertamax Green 95 Rp 17.000, dan Pertamax Turbo Rp 19.300 per liter.
Sementara itu, produk Dexlite dibanderol dengan harga Rp 19.700 per liter dan Pertamina Dex mencapai Rp 21.150 per liter. Perbedaan harga yang cukup lebar ini diduga kuat menjadi pemicu utama masyarakat beralih ke pilihan subsidi.

Posting Komentar