Ad

Review Moana Live-Action: Dwayne Johnson Terjebak dalam Remake yang Hambar

Moana review – Dwayne Johnson’s demigod on autopilot in dull live-action remake | Film | The Guardian
Review Moana Live-Action: Dwayne Johnson Terjebak dalam Remake yang Hambar

RADARGORONTALO.COM - Film live-action Moana resmi hadir sebagai upaya Disney untuk mengulang kesuksesan animasi orisinalnya dari tahun 2016. Namun, banyak kritikus menilai langkah ini terasa sinis, hambar, dan tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru bagi penonton.

Proyek ini datang setelah sekuel animasinya yang dinilai membosankan dirilis dua tahun lalu. Kini, penonton disajikan dengan versi live-action yang digadang-gadang sebagai penyegaran, meski eksekusinya terasa seperti produk yang dipaksakan.

Proses Kreatif di Balik Layar

Naskah film ini kembali dikerjakan oleh Jared Bush yang memodifikasi cerita asli agar sesuai dengan format live-action. Sementara itu, veteran panggung Broadway Thomas Kail dipercaya untuk melakukan debut penyutradaraan filmnya, dengan tetap menyertakan lagu-lagu gubahan Lin-Manuel Miranda.

Aktris Australia keturunan Samoa, Catherine Laga’aia, terpilih untuk memerankan sosok Moana yang berkemauan keras sebagai putri kepala suku Polinesia. Di sisi lain, peran neneknya yang bijak, Tala, dimainkan oleh aktor asal Selandia Baru, Rena Owen.

Alur Cerita dan Karakter Ikonik

Kisah ini masih mengikuti perjalanan Moana yang harus mencari cara untuk memulihkan hati dewi Te Fiti. Krisis lingkungan yang melanda pulau asalnya, Motunui, menjadi dorongan utama bagi sang protagonis muda untuk memulai petualangan berbahaya ini.

Untuk menuntaskan misinya, Moana harus bekerja sama dengan demigod Maui yang memiliki sifat sombong namun kuat. Dwayne Johnson kembali memerankan karakter ini, membawa persona fisiknya yang berukuran raksasa dan berotot persis seperti versi animasinya.

Proses Kreatif di Balik Layar

Dinamika Peran dan Kritik Performa

Maui diceritakan memiliki konflik pribadinya sendiri, yakni upaya mengambil kembali kail ajaib yang menjadi sumber kekuatannya. Dalam perjalanan tersebut, ia harus berhadapan dengan musuh bebuyutannya, kepiting raksasa bernama Tamatoa yang suaranya diisi kembali oleh Jemaine Clement.

Meskipun terdapat interaksi yang cukup lucu antara Johnson dan Laga’aia, penampilan Dwayne Johnson terasa seperti sedang menggunakan autopilot. Ia terlihat hanya mengandalkan gerakan alis khas atau otot dada sebagai bagian dari akting yang sudah terlalu sering kita lihat.

Masalah Visual dan CGI

Karakter-karakter seperti Heihei, ayam peliharaan Moana, dan Tamatoa hanyalah versi animasi 3D yang ditempelkan ke dalam film. Penggunaan CGI yang sangat masif ini membuat istilah "live-action" menjadi sangat dipertanyakan dan terasa seperti animasi belaka.

Banyak pengamat merasa bahwa film ini sekadar konten monetisasi tanpa jiwa yang tidak memberikan nilai tambah pada materi aslinya. Seandainya diangkat menjadi pertunjukan musikal panggung, mungkin lagu-lagu di dalamnya bisa mendapatkan panggung yang lebih layak.

Kesimpulan Akhir

Pada akhirnya, Moana live-action ini gagal menangkap keajaiban yang ada pada film animasinya. Sebagai penonton, sulit untuk tidak merasa bahwa proyek ini lebih mengutamakan keuntungan komersial daripada esensi penceritaan yang bermakna.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Review Moana Live-Action: Dwayne Johnson Terjebak dalam Remake yang Hambar
  • Review Moana Live-Action: Dwayne Johnson Terjebak dalam Remake yang Hambar
  • Review Moana Live-Action: Dwayne Johnson Terjebak dalam Remake yang Hambar
  • Review Moana Live-Action: Dwayne Johnson Terjebak dalam Remake yang Hambar
  • Review Moana Live-Action: Dwayne Johnson Terjebak dalam Remake yang Hambar
  • Review Moana Live-Action: Dwayne Johnson Terjebak dalam Remake yang Hambar

Posting Komentar