Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Purbaya Pastikan Kondisi Aman
RADARGORONTALO.COM - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini tengah menjadi sorotan utama setelah menembus angka psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pergerakan signifikan ini tercatat mulai terjadi sejak pagi hari sekitar pukul 09.13 WIB berdasarkan data terkini dari Refinitiv.
Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan bahwa situasi nilai tukar saat ini masih berada dalam kendali penuh Bank Indonesia (BI). Ia menegaskan kepercayaan penuh kepada otoritas moneter tersebut untuk terus menjaga stabilitas mata uang Garuda agar tidak terperosok lebih dalam.
Purbaya menyampaikan pernyataan tersebut di kawasan Gedung DPR, Jakarta, pada Kamis (4/6/2026). Ia menegaskan bahwa seluruh langkah penanganan rupiah diserahkan sepenuhnya kepada mekanisme kebijakan BI yang dinilai masih berjalan dengan baik.
Terkait tekanan yang terus terjadi pada rupiah, pemerintah hingga saat ini belum memiliki rencana untuk menggelar rapat dadakan. Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) tetap akan menjalankan jadwal pertemuan berkala sebagaimana mestinya.
Faktor Penyebab Volatilitas Rupiah
Purbaya menekankan bahwa tidak diadakannya rapat luar biasa bertujuan untuk menjaga ketenangan pasar keuangan domestik. Ia tidak ingin langkah reaktif pemerintah justru menimbulkan kesan kepanikan di mata publik maupun investor.
Beberapa faktor utama penyebab melemahnya nilai tukar rupiah menurut otoritas terkait adalah ketegangan geopolitik di wilayah Timur Tengah yang kembali memanas. Kondisi ini diperparah dengan harga minyak dunia yang tetap tinggi, sehingga memicu kekhawatiran terhadap kenaikan inflasi secara global.
Selain itu, fenomena arus modal keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang menuju aset yang dianggap lebih aman turut menekan performa mata uang nasional. Tingginya permintaan dolar AS di dalam negeri untuk keperluan repatriasi dividen perusahaan asing dan kewajiban pembayaran utang luar negeri (ULN) jatuh tempo menjadi faktor tambahan.
Tanggapan Bank Indonesia dan Perspektif Regional
Pihak Bank Indonesia, melalui Deputi Gubernur Senior Destry Damayanti, menjelaskan bahwa tekanan terhadap mata uang tidak hanya dialami oleh Indonesia. Sebagian besar mata uang di kawasan regional Asia juga mengalami tren penurunan nilai yang serupa terhadap dolar AS.
Pelemahan rupiah dinilai masih sejalan dengan pergerakan mata uang di negara-negara tetangga yang terdampak volatilitas pasar global. Sepanjang tahun ini (year to date), depresiasi rupiah terhadap dolar AS tercatat mencapai angka 7,44 persen.
Volatilitas pasar global ini menunjukkan bahwa dampak ekonomi tersebut merata dirasakan oleh seluruh negara di kawasan Asia. BI terus memantau dinamika ini untuk memastikan kebijakan intervensi tetap efektif di pasar valuta asing.
Secara keseluruhan, BI memastikan bahwa mereka akan terus berada di pasar untuk menjaga keseimbangan antara penawaran dan permintaan dolar. Langkah ini diambil secara strategis guna memitigasi risiko lebih lanjut terhadap perekonomian nasional di masa depan.

Posting Komentar