Ad

Tinggal Serumah dengan Mertua? Ini Solusi Harmonis Menurut Islam

Tinggal Serumah dengan Mertua, Begini Solusi Menurut Islam | Muhammadiyah
Tinggal Serumah dengan Mertua? Ini Solusi Harmonis Menurut Islam

RADARGORONTALO.COM - Dinamika hubungan antara menantu dan mertua sering kali menjadi isu sensitif yang mewarnai kehidupan rumah tangga di Indonesia. Berdasarkan laporan dari MUHAMMADIYAH.OR.ID di Yogyakarta, ketegangan ini umumnya dipicu oleh perbedaan pola pikir, cara berkomunikasi, hingga latar belakang generasi yang kontras antara kedua pihak.

Pandangan mengenai relasi ini dibahas secara mendalam oleh Anggota Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, Dewi Eko Wati, dalam program Indahnya Cahaya Islam bersama host Adib Sofia pada Senin (6/7). Dewi menjelaskan bahwa Islam telah memberikan panduan komprehensif agar relasi tersebut tetap terjaga dalam bingkai saling menghormati, komunikasi yang baik, dan semangat berdamai.

Memahami Keunikan Relasi Menantu dan Mertua

Menurut Dewi, hubungan antara menantu dan mertua merupakan relasi yang sangat unik karena terjalin bukan melalui hubungan darah, melainkan akibat adanya akad pernikahan yang mengikat dua keluarga besar. Ikatan suci tersebut secara otomatis melahirkan hak dan kewajiban yang harus dijalankan oleh masing-masing pihak agar tercipta keharmonisan.

Persoalan dalam relasi ini biasanya berawal dari hal-hal sederhana, seperti kesalahpahaman, komunikasi yang kurang efektif, hingga perbedaan cara pandang dalam mengasuh anak. Jika dialog tidak segera dilakukan, masalah yang sebenarnya kecil ini bisa membesar karena masing-masing pihak belum menemukan titik temu yang tepat.

Tantangan Perbedaan Generasi

Tantangan lain yang kerap muncul adalah adanya perbedaan generasi, di mana Dewi mencontohkan bahwa generasi baby boomers memiliki cara pandang yang sangat berbeda dibandingkan generasi muda saat ini. Hal-hal yang dahulu dianggap sebagai bentuk motivasi atau kepedulian oleh orang tua, kini justru sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang menyakitkan oleh generasi muda.

Setiap generasi lahir dalam budaya dan zaman yang berbeda, sehingga hal tersebut sangat memengaruhi pola pikir dan cara mereka berinteraksi. Oleh karena itu, Dewi menegaskan bahwa cara memotivasi atau berkomunikasi dengan generasi sekarang tentu harus berbeda dengan pendekatan yang digunakan pada generasi sebelumnya.

Prinsip Birrul Walidain dan Islah

Dalam perspektif Islam, Dewi menegaskan bahwa hubungan menantu dan mertua harus senantiasa dilandasi prinsip birrul walidain atau berbakti kepada orang tua. Meskipun bukan orang tua kandung, mertua tetap memiliki hak untuk dihormati dan dimuliakan dalam kehidupan berumah tangga.

Memahami Keunikan Relasi Menantu dan Mertua

Selain menghormati, penting juga untuk selalu mengedepankan islah atau upaya mendamaikan apabila terjadi perselisihan antara menantu dan mertua. Ia mengajak pasangan maupun mertua untuk selalu berhusnuzan, karena pada dasarnya setiap orang tua pasti menginginkan kehidupan terbaik bagi anak dan keluarga mereka.

Peran Krusial Suami atau Istri sebagai Mediator

Dewi secara khusus menyoroti peran penting suami maupun istri sebagai mediator utama antara pasangan dan orang tua mereka. Pasangan tidak boleh berpihak secara membabi buta, melainkan harus mampu menjadi jembatan komunikasi yang menyejukkan suasana agar konflik tidak semakin meruncing.

Suami harus bisa menjadi mediator yang bijak antara istri dan ibunya, begitu pula sebaliknya jika istri tinggal bersama keluarganya sendiri. Jangan pernah memperkeruh suasana dengan menjelek-jelekkan pasangan di hadapan orang tua, melainkan munculkan sisi-sisi baik dari pasangan agar suasana rumah tetap kondusif.

Solusi Jika Tinggal Serumah Memicu Konflik

Ketika konflik tidak kunjung menemukan jalan keluar meskipun sudah dilakukan musyawarah, Dewi menilai bahwa tinggal terpisah adalah langkah yang sah dan bisa dipertimbangkan. Jika tinggal serumah justru memicu lebih banyak mudarat, pasangan dapat memilih hidup mandiri tanpa harus mengurangi rasa hormat kepada orang tua.

Tidak ada salahnya memutuskan untuk berbeda rumah atau setidaknya berbeda dapur jika memang itu menjadi solusi terbaik untuk menjaga keharmonisan. Yang terpenting adalah segala keputusan tersebut dikomunikasikan dengan baik dan tetap menjaga adab penghormatan kepada orang tua.

Persiapan Matang Sebelum Pernikahan

Sebagai penutup, Dewi mengingatkan pentingnya persiapan matang sebelum memasuki jenjang pernikahan agar tidak terkejut dengan dinamika keluarga. Banyak pasangan muda belum menyadari bahwa pernikahan berarti menyatukan dua keluarga besar, bukan sekadar menyatukan dua individu saja.

Ia menyarankan agar calon pasangan saling mengenalkan karakter dan budaya keluarga sejak sebelum menikah melalui proses ta'aruf yang mendalam. Dengan membangun komitmen bersama, komunikasi yang terbuka, dan rasa saling pengertian, rumah tangga yang sakinah, mawadah, dan rahmah insya Allah akan lebih mudah terwujud.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Tinggal Serumah dengan Mertua? Ini Solusi Harmonis Menurut Islam
  • Tinggal Serumah dengan Mertua? Ini Solusi Harmonis Menurut Islam
  • Tinggal Serumah dengan Mertua? Ini Solusi Harmonis Menurut Islam
  • Tinggal Serumah dengan Mertua? Ini Solusi Harmonis Menurut Islam
  • Tinggal Serumah dengan Mertua? Ini Solusi Harmonis Menurut Islam
  • Tinggal Serumah dengan Mertua? Ini Solusi Harmonis Menurut Islam

Posting Komentar