Kesaksian Abbas Araghchi: Detik-Detik Serangan yang Menewaskan Pemimpin Iran Ali Khamenei
RADARGORONTALO.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, akhirnya memberikan kesaksian mengenai serangan udara mematikan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei pada hari pertama perang. Sejak berhasil diselamatkan dari reruntuhan kompleks kepemimpinan, Araghchi mengungkapkan bahwa ia terus berpindah lokasi di ibu kota Teheran menggunakan mobil untuk menjaga keselamatannya.
Dalam sebuah wawancara mendalam dengan jurnalis Iran, Javad Mogouyi, Araghchi mengonfirmasi bahwa Israel dan Amerika Serikat memiliki intelijen yang sangat akurat terkait lokasi Khamenei dan para pejabat senior lainnya. Kemampuan musuh untuk menentukan titik koordinat yang tepat memfasilitasi serangan yang melumpuhkan eselon tertinggi kepemimpinan Iran tersebut.
Serangan Hari Pertama dan Dampaknya
Serangan gabungan Amerika-Israel dimulai tak lama setelah pukul 09.00 waktu setempat ketika para pejabat senior sedang berkumpul untuk pertemuan strategis. Pertemuan tersebut melibatkan kementerian intelijen, dewan strategis kebijakan luar negeri, serta dewan pertahanan nasional yang berada di lokasi yang sama.
Araghchi sedang melaporkan situasi kepada Ali Asghar Hijazi, wakil kepala staf Khamenei, ketika bangunan tersebut diguncang oleh tiga ledakan beruntun dalam hitungan detik. Ledakan ketiga menghantam hampir tepat di sebelah bangunan mereka, menghancurkan sisi kiri gedung dan menyebabkan kehancuran total di area kantor Hijazi.
Meskipun sekretaris Hijazi tewas seketika di tempat kejadian, Araghchi dan Hijazi berhasil selamat dari dampak langsung detonasi tersebut. Mereka berdua harus berjuang keluar dari reruntuhan plafon, dinding, dan papan kayu di tengah kepulan debu serta pipa air yang pecah, sambil mendengar jeritan minta tolong di sekitar mereka.
Celah Keamanan dan Intelijen Asing
Araghchi menekankan bahwa fakta Israel memiliki data intelijen mengenai agenda pertemuan rahasia tersebut merupakan masalah krusial. Ia mengakui bahwa ini menunjukkan adanya celah keamanan serius yang kemungkinan masih ada dan harus segera diperbaiki oleh otoritas keamanan Iran.
Setelah berhasil keluar dari lokasi pengeboman, ia segera dilarikan ke kementerian luar negeri oleh seorang pengendara yang lewat karena mobil dinasnya hancur. Selama tiga hari pertama, ia terputus dari komunikasi untuk mencari tahu siapa saja pejabat yang masih hidup dan siapa yang telah menjadi martir dalam serangan tersebut.
Perubahan Kepemimpinan dan Stabilitas Rezim
Araghchi menyatakan bahwa ia belum sempat bertemu dengan pemimpin baru negara tersebut, yaitu Mojtaba Khamenei, putra dari mendiang Ali Khamenei. Namun, ia menegaskan bahwa penunjukan Mojtaba mengirimkan pesan kuat kepada dunia bahwa tidak akan ada perubahan dalam kebijakan dan ideologi dasar rezim Iran.
Ia mengungkapkan bahwa pemerintah Iran sebenarnya sudah bersiap menghadapi skenario serangan seperti ini dengan rencana darurat. Rencana tersebut dikenal dengan sandi "Code 110", yang merujuk pada klausa konstitusi Iran mengenai kewenangan dan suksesi kekuasaan Pemimpin Tertinggi.
Ancaman dan Strategi Pertahanan Iran
Iran telah memperingatkan negara-negara tetangga bahwa setiap serangan akan dibalas dengan tindakan tegas terhadap target-target di wilayah regional. Araghchi memperingatkan bahwa jika fasilitas nuklir Iran diserang, mereka akan menghantam fasilitas nuklir lawan, dan jika fasilitas minyak diserang, mereka akan memastikan tidak ada pihak di wilayah tersebut yang bisa menjual minyak.
Ia juga menyinggung mengenai kemampuan rudal Iran yang telah ditingkatkan secara signifikan setelah kampanye pengeboman Israel selama 12 hari pada tahun 2025. Waktu yang dibutuhkan untuk mengaktifkan kembali pangkalan setelah serangan telah berkurang drastis dari 10–15 jam menjadi hanya 35–40 menit.
Diplomasi di Tengah Eskalasi Perang
Dalam wawancara tersebut, Araghchi membeberkan bahwa Iran sempat menawarkan kesepakatan terkait program nuklir pada putaran terakhir pembicaraan di Jenewa. Namun, Menteri Luar Negeri Oman, Badr Albusaidi, kemudian memberitahunya bahwa suasana di Washington tiba-tiba menjadi jauh lebih agresif dan tidak kondusif bagi diplomasi.
Meskipun mengakui keraguannya terhadap keberhasilan negosiasi, Araghchi menyatakan bahwa langkah tersebut tetap harus diambil untuk memastikan tidak ada celah keraguan bahwa Iran telah berupaya menempuh jalur damai. Ia menutup perbincangan dengan sebuah prinsip mendasar: Iran tidak akan berperang kecuali jika biaya untuk tidak berperang dinilai lebih tinggi daripada biaya untuk berperang.

Posting Komentar