Waspada Cuaca Ekstrem, BMKG Peringatkan Hujan Lebat di Sumatera Utara
RADARGORONTALO.COM - Balai Besar Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah I telah mengeluarkan peringatan dini terkait potensi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat di sejumlah wilayah Sumatera Utara. Peringatan tersebut berlaku untuk periode 20 hingga 27 Juli 2026.
Fenomena cuaca ekstrem ini dipengaruhi oleh sejumlah faktor dinamika atmosfer yang sedang aktif di wilayah tersebut. Di antaranya adalah gelombang atmosfer yang aktif, adanya belokan angin (shearline), serta kondisi udara yang cukup labil sehingga mendukung pertumbuhan awan hujan.
Rekapitulasi Curah Hujan Historis
Sebelum peringatan ini dirilis, BMKG telah mencatat curah hujan yang cukup tinggi di berbagai titik sejak 16 hingga 19 Juli 2026. Data ini menjadi indikator penting mengenai potensi gangguan cuaca yang masih akan berlanjut di Sumatera Utara.
Pada tanggal 16 Juli 2026, Pos Hujan KHI Greahani di Kabupaten Deli Serdang mencatat intensitas curah hujan mencapai 56 milimeter. Sehari berikutnya, hujan dengan intensitas lebat mengguyur Pos Hujan Batang Toru di Tapanuli Selatan sebesar 116 milimeter, serta Stasiun Meteorologi Pinangsori di Tapanuli Tengah sebesar 91 milimeter.
Intensitas hujan yang signifikan terus berlanjut pada 18 Juli 2026 dengan catatan curah hujan 137 milimeter di Pos Hujan Hutabalang, Tapanuli Tengah. Stasiun Meteorologi Pinangsori pun mencatat curah hujan yang cukup tinggi mencapai 98,2 milimeter pada periode yang sama.
Pada 19 Juli 2026, hujan lebat juga terpantau di Pos Hujan Mardinding, Kabupaten Karo, dengan catatan curah hujan sebesar 110 milimeter. Pos Hujan Tanjung Langkat serta Pos Hujan Halimbi di Labuhanbatu Utara juga melaporkan curah hujan mencapai 81 milimeter.
Pemicu dan Dinamika Cuaca
BMKG menjelaskan bahwa potensi hujan lebat ini dipicu adanya belokan angin atau shearline di Samudera Hindia bagian barat Sumatera. Kondisi ini membentuk daerah pertemuan angin (konfluens) yang membentang mulai dari wilayah pantai barat hingga lereng timur Sumatera Utara.
Prakirawan BBMKG Wilayah I, Putri Diana, menyatakan bahwa aktivitas gelombang atmosfer masih aktif dan didukung oleh suhu muka laut yang hangat. Kondisi tersebut secara signifikan meningkatkan proses pembentukan awan hujan di berbagai wilayah Sumatera Utara pada Rabu (22/7/2026).
Pada pagi hingga siang hari, cuaca di wilayah Sumatera Utara umumnya diprediksi dalam kondisi cerah hingga cerah berawan. Namun, peningkatan suhu akibat pemanasan yang cukup signifikan dapat memicu pertumbuhan awan konvektif pada sore hingga malam hari.
Selain ancaman banjir, BMKG juga memberikan peringatan terkait potensi angin kencang lokal yang sering terjadi bersamaan dengan pertumbuhan awan hujan. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor di area rawan.
Wilayah yang Berpotensi Terdampak
BMKG memprediksi hujan dengan intensitas sedang hingga sangat lebat ini berpotensi terjadi secara luas mulai dari wilayah pegunungan hingga pesisir. Daerah yang terdampak mencakup Kabupaten Pakpak Bharat, Dairi, Karo, Langkat, Kota Binjai, Medan, Deli Serdang, Serdang Bedagai, Batubara, Asahan, Labuhanbatu Utara, Labuhanbatu Selatan, Humbang Hasundutan, Toba, Samosir, Simalungun, dan Kota Pematangsiantar.
Potensi hujan lebat juga diprediksi akan mencakup wilayah Padang Lawas, Padang Lawas Utara, Tapanuli Selatan, serta Padangsidimpuan. Selain itu, wilayah Tapanuli Tengah, Sibolga, Tapanuli Utara, Mandailing Natal, Gunung Sitoli, Nias, Nias Selatan, Nias Utara, hingga Nias Barat diminta untuk tetap waspada.
Langkah Antisipasi Masyarakat
Pemerintah daerah diimbau untuk segera melakukan koordinasi intensif dengan BPBD, TNI, dan Polri dalam menghadapi potensi cuaca ekstrem ini. Langkah antisipasi dini sangat diperlukan oleh seluruh pihak untuk meminimalisir dampak negatif dari bencana yang mungkin terjadi.
Masyarakat diingatkan untuk selalu memantau perkembangan informasi cuaca melalui kanal resmi BMKG guna mendapatkan data yang akurat. Pihak BMKG menegaskan agar warga tidak mudah mempercayai informasi cuaca dari sumber yang tidak terverifikasi.

Posting Komentar