Aksi Massa Warnai Muktamar NU: Sidang Pemilihan AHWA Molor Delapan Jam
RADARGORONTALO.COM - Gelaran Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, sempat diwarnai ketegangan pada Minggu (30/8). Sebuah aksi unjuk rasa di lokasi acara menyebabkan sidang pleno pemilihan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) mengalami penundaan hingga sekitar delapan jam.
Sidang yang sedianya dijadwalkan dimulai pada pukul 08.00 WIB terpaksa ditunda akibat kondisi yang tidak kondusif di area Gedung Serba Guna (GSG) pesantren. Aksi protes ini memicu kekhawatiran di kalangan peserta muktamar akan keterlambatan agenda krusial organisasi ini.
Kronologi Aksi di Lokasi Muktamar
Aksi unjuk rasa tersebut dipicu oleh ketidakpuasan massa terkait proses pencalonan Ketua Umum PBNU yang dinilai tidak transparan. Puluhan orang merangsek masuk ke halaman Gedung Serba Guna dan sempat menjebol pagar pembatas di area tersebut.
Para pengunjuk rasa yang menamakan diri sebagai Aliansi Santri Gus Dur menyuarakan protes keras atas tidak lolosnya KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf dalam bursa calon. Mereka menuntut untuk bertemu langsung dengan Ketua Panitia Muktamar, Saifullah Yusuf, guna menyampaikan keberatan secara resmi.
Situasi sempat memanas selama kurang lebih dua setengah jam sebelum akhirnya massa membubarkan diri dengan tertib. Tidak terjadi benturan fisik yang berarti antara pengunjuk rasa dengan petugas keamanan gabungan yang berjaga di lokasi.
Signifikansi Sidang AHWA dalam Muktamar
Sidang pleno pemilihan anggota AHWA merupakan tahapan paling krusial dalam rangkaian Muktamar ke-35 NU. Forum ini memiliki peran vital sebagai penentu mekanisme pemilihan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU untuk periode kepengurusan selanjutnya.
Oleh karena itu, keterlambatan sidang ini menjadi perhatian serius bagi seluruh peserta dan panitia muktamar. Proses pemilihan yang tertunda menyebabkan molornya seluruh rangkaian jadwal yang telah disepakati sebelumnya oleh para peserta.
Setelah situasi dinyatakan kondusif, peserta muktamar baru diperbolehkan kembali memasuki ruang sidang untuk melanjutkan proses pemungutan suara. Pengamanan di lokasi pun diperketat untuk menjamin kelancaran sisa rangkaian agenda muktamar yang tersisa.
Tuntutan dan Respon Panitia
Kelompok Aliansi Santri Gus Dur, yang dikoordinatori oleh Muhammad Sholihin, menuding adanya praktik yang mencederai prinsip keadilan dalam muktamar. Mereka secara khusus menyoroti dugaan praktik politik uang dalam proses pencalonan pimpinan organisasi.
Selain masalah pencalonan Gus Yusuf, aliansi ini juga mengecam pencabutan hak hadir Greg Barton dalam kegiatan muktamar. Mereka menduga adanya intervensi dari pihak tertentu terkait arahan Rais Aam PBNU KH Miftahul Akhyar dalam keputusan tersebut.
Hingga saat ini, pihak Panitia Muktamar belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan massa maupun tudingan praktik politik uang yang disuarakan. Fokus panitia saat ini lebih diarahkan pada normalisasi jalannya sidang pleno dan pengamanan area pesantren.
Upaya Pengamanan dan Penormalan Situasi
Proses pemulihan keamanan di kompleks Pesantren Tambakberas dipimpin langsung oleh Ketua Umum GP Ansor, Addin Jauharudin. Ia didampingi oleh Ketua Umum Pagar Nusa, Nabiel Harun, serta Abdul Rojak Shaleh atau Gus Rozaq untuk memastikan situasi terkendali.
Ratusan personel gabungan dari Banser, Pagar Nusa, keamanan pesantren, dan aparat kepolisian membentuk pagar betis di sekitar area sidang. Langkah ini berhasil mensterilkan lokasi dan memberikan rasa aman bagi peserta muktamar untuk melanjutkan agenda.
Harapan Masa Depan Nahdlatul Ulama
Di tengah dinamika yang terjadi, banyak pihak berharap Nahdlatul Ulama tetap fokus pada agenda utama memajukan umat. Fokus strategis tersebut mencakup penguatan di bidang ekonomi, pendidikan, dan layanan kesehatan bagi masyarakat luas.
Muktamar ke-35 ini diharapkan tidak hanya sekadar memilih pimpinan, tetapi juga menetapkan visi besar NU di abad kedua. Harapan besar ditumpukan agar pesantren mampu menjadi kompas moral dan sosial bagi kemajuan bangsa ke depannya.
Posting Komentar