Ad

Puluhan Ribu Penyandang Disabilitas di Jabar Belum Bekerja: PKS Luncurkan Solusi Inklusif

Puluhan Ribu Penyandang Disabilitas Jabar belum Bekerja, PKS Rancang Solusinya
Puluhan Ribu Penyandang Disabilitas di Jabar Belum Bekerja: PKS Luncurkan Solusi Inklusif

RADARGORONTALO.COM - Persoalan ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas di Jawa Barat kembali menjadi sorotan serius seiring dengan tingginya angka pengangguran di kelompok tersebut. Data terbaru menunjukkan bahwa lebih dari 22 ribu penyandang disabilitas di Jawa Barat hingga saat ini belum mendapatkan pekerjaan, dengan tingkat serapan kerja yang masih sangat rendah.

Hanya sekitar 6,5% dari total penyandang disabilitas di wilayah tersebut yang sudah berhasil mendapatkan pekerjaan. Menanggapi kondisi tersebut, DPW PKS Jawa Barat mengambil langkah strategis melalui peluncuran program Sahabat Inklusi PKS Jawa Barat (SAHABATIN) di Bandung pada Minggu (30/8).

Tantangan Struktural dan Kesenjangan Pendidikan

Kondisi yang memprihatinkan ini tidak lepas dari berbagai hambatan sistemik yang dihadapi oleh penyandang disabilitas dalam mengakses lapangan pekerjaan. Secara nasional, tingkat pengangguran terbuka penyandang disabilitas mencapai 10,8%, sebuah angka yang jauh melampaui rata-rata pengangguran nasional secara umum.

Selain tantangan akses ekonomi, kesenjangan pendidikan juga menjadi faktor penghambat yang signifikan. Statistik mencatat bahwa sekitar 17,85% penyandang disabilitas bahkan tidak pernah mengenyam pendidikan formal sama sekali, sementara mayoritas dari sekitar 660 ribu penyandang disabilitas di Indonesia hanya merupakan lulusan sekolah dasar, dan hanya sekitar 40 ribu yang berhasil mencapai jenjang strata satu.

Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Iwan Suryawan, menekankan bahwa kondisi ini bukan disebabkan oleh ketidakmampuan penyandang disabilitas, melainkan akibat peluang yang belum terbuka secara adil. Menurutnya, selama akses pendidikan dan peluang kerja belum setara, potensi besar yang dimiliki penyandang disabilitas akan terus terpendam.

Peluncuran SAHABATIN: Komitmen Kerja Nyata

Dalam acara Silaturahmi Keluarga Disabilitas Kader Pelopor, Iwan Suryawan yang akrab disapa Abah Iwan menegaskan bahwa kepedulian terhadap penyandang disabilitas tidak boleh hanya berhenti pada wacana. Ia menuntut adanya kerja nyata yang berorientasi pada kebutuhan riil di lapangan.

"Kita ingin kepedulian ini tidak berhenti pada perhatian, tetapi menjadi kerja nyata. Apa yang menjadi kebutuhan saudara-saudara kita penyandang disabilitas harus kita dengarkan, kita pahami, kemudian kita perjuangkan agar menjadi bagian dari arah kebijakan dan program yang nyata," ujar Iwan Suryawan saat acara peluncuran tersebut.

Tantangan Struktural dan Kesenjangan Pendidikan

Abah Iwan juga menegaskan pentingnya pendekatan yang tidak berbasis asumsi dalam merumuskan kebijakan. Ia meyakini bahwa setiap individu memiliki kebutuhan yang berbeda, sehingga kebijakan yang dibuat tidak bisa dipukul rata dan harus bersifat manusiawi.

Pendekatan Berbasis Kebutuhan Keluarga

Senada dengan Iwan, Ketua Bidang BPMRD DPW PKS Jawa Barat, Dadan Suryanegara, menjelaskan bahwa SAHABATIN dirancang sebagai wadah komunikasi yang lebih komprehensif. Melalui platform ini, kebutuhan penyandang disabilitas dan keluarganya dapat terdokumentasi dengan lebih akurat.

Dadan menyoroti bahwa dukungan tidak boleh hanya difokuskan pada penyandang disabilitas secara individu, tetapi juga lingkaran pendukungnya, yaitu keluarga. Orang tua dan pasangan yang mendampingi penyandang disabilitas juga memerlukan akses informasi serta penguatan kapasitas agar mampu memberikan dukungan yang optimal.

Dalam forum tersebut, tiga bidang di DPW PKS Jawa Barat yakni BPMRD, Boemkraf, dan Bidnaker bersinergi untuk mendiskusikan peluang konkret. Fokus utamanya adalah membuka akses ekonomi kreatif dan memperluas peluang ketenagakerjaan bagi penyandang disabilitas agar mereka bisa berdaya secara mandiri.

Langkah Strategis Menuju Masa Depan Inklusif

Jawa Barat memang tercatat sebagai provinsi dengan jumlah tenaga kerja disabilitas yang ditempatkan terbanyak secara nasional, mencapai 252 orang pada 2024. Namun, angka tersebut dinilai masih sangat kecil jika dibandingkan dengan total potensi yang ada.

Dengan adanya SAHABATIN, diharapkan terjadi perubahan paradigma dalam menyikapi aspirasi penyandang disabilitas. Dadan menegaskan bahwa aspirasi yang dikumpulkan hari ini harus menjadi bahan dasar bagi perumusan kebijakan yang lebih responsif dan inklusif di masa depan.

Sebagai penutup, Abah Iwan memberikan pesan inspiratif mengenai hakikat kepedulian. "Kebaikan itu menular. Maka teruslah melakukan kebaikan, terus hadir dan terus membersamai. Karena ukuran kepedulian bukan hanya seberapa banyak kita berbicara, tetapi seberapa jauh kehadiran kita memberi perubahan bagi kehidupan orang lain," pungkasnya.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Puluhan Ribu Penyandang Disabilitas di Jabar Belum Bekerja: PKS Luncurkan Solusi Inklusif
  • Puluhan Ribu Penyandang Disabilitas di Jabar Belum Bekerja: PKS Luncurkan Solusi Inklusif
  • Puluhan Ribu Penyandang Disabilitas di Jabar Belum Bekerja: PKS Luncurkan Solusi Inklusif
  • Puluhan Ribu Penyandang Disabilitas di Jabar Belum Bekerja: PKS Luncurkan Solusi Inklusif
  • Puluhan Ribu Penyandang Disabilitas di Jabar Belum Bekerja: PKS Luncurkan Solusi Inklusif
  • Puluhan Ribu Penyandang Disabilitas di Jabar Belum Bekerja: PKS Luncurkan Solusi Inklusif

Posting Komentar