Ad

Strategi Mendunia Tanpa Kehilangan Akar dalam Industri Fesyen Indonesia

Mendunia tanpa Kehilangan Akar
Strategi Mendunia Tanpa Kehilangan Akar dalam Industri Fesyen Indonesia

RADARGORONTALO.COM - Di era globalisasi yang menuntut kecepatan produksi, industri fesyen kini dihadapkan pada dilema antara mengejar volume atau mempertahankan nilai otentik sebuah karya. Pertanyaan krusial tentang bagaimana sebuah jenama dapat berkembang pesat tanpa harus mengorbankan identitas aslinya menjadi topik hangat dalam sesi diskusi panel bertajuk Fashion and Craftsmanship: Rethinking the Fashion of Tomorrow.

Acara tersebut, yang digagas oleh kolaborasi strategis antara Kedutaan Besar Prancis-IFI, LAKON Indonesia, dan JF3 Fashion Festival, berhasil mempertemukan berbagai pelaku industri kreatif dari Indonesia dan Prancis. Para ahli, termasuk Thresia Mareta dari LAKON Indonesia, Darja Richter-Widhoff dari ENAMOMA-PSL, serta sejumlah desainer muda seperti Fengyuan Dai, Gabrielle Michelle Budiono, dan Mickael Nana, berbagi perspektif mengenai masa depan industri fesyen yang berkelanjutan.

Mengubah Paradigma Pertumbuhan dan Skalabilitas

Founder LAKON Indonesia, Thresia Mareta, menekankan bahwa pertumbuhan sebuah jenama fesyen tidak selalu harus diukur melalui peningkatan jumlah produksi secara masif. Menurutnya, konsep scaling up atau peningkatan skala bisnis harus dipahami lebih luas sebagai upaya meningkatkan kemahiran desainer serta nilai tambah dari karya yang mereka ciptakan.

Bagi jenama yang berpijak pada nilai craftsmanship, kualitas produk akhir tidak bisa dipisahkan dari proses panjang yang melibatkannya. Setiap potongan pakaian membawa narasi tentang keterampilan artisan yang diwariskan lintas generasi, sebuah aset intelektual yang justru akan hancur jika hanya menggunakan logika bisnis manufaktur konvensional.

Sinergi Desainer dan Artisan dalam Proses Kreatif

Kekuatan fesyen Indonesia terletak pada kolaborasi yang erat antara visi desainer dengan keahlian teknis para artisan lokal di berbagai daerah. Gabrielle Michelle Budiono, desainer dan residen PINTU, menegaskan bahwa proses kreatif tidak bisa dimulai hanya dengan memberikan instruksi teknis kepada pengrajin tanpa dialog yang mendalam.

Setiap artisan memiliki karakter unik dan spesialisasi metode yang berbeda, bahkan jika mereka berasal dari wilayah geografis yang sama. Dengan menempatkan artisan sebagai mitra dalam proses penciptaan—bukan sekadar tenaga produksi—sebuah jenama mampu menghasilkan karya yang memiliki jiwa dan identitas yang sangat kuat.

Mengubah Paradigma Pertumbuhan dan Skalabilitas

Tantangan Bisnis dan Identitas Kreatif

Di sisi lain, desainer muda tetap menghadapi tantangan nyata dalam menyeimbangkan idealisme kreatif dengan keberlangsungan operasional bisnis sehari-hari. Mickael Nana dari brand MARLON NANA menyoroti sulitnya mencari akses material berkualitas dalam jumlah produksi terbatas, karena banyak manufaktur tekstil yang masih mensyaratkan volume pemesanan yang sangat besar.

Perubahan perilaku konsumen saat ini juga menuntut transparansi lebih, di mana mereka mulai mencari tahu tentang kisah manusia di balik sebuah produk fesyen. Para pembeli kini semakin peduli pada proses, etika kerja, dan narasi yang menyertai setiap jahitan, sehingga hal ini menjadi peluang bagi jenama yang jujur dengan proses produksinya.

Membangun Ekosistem Fesyen yang Berkelanjutan

Head of Design and Co-Director ENAMOMA-PSL, Darja Richter-Widhoff, menyatakan bahwa industri fesyen yang sukses harus dibangun melalui kontribusi berbagai pihak dalam sebuah ekosistem. Konsep group of stars lebih relevan dibandingkan mengandalkan satu figur utama saja, karena setiap elemen mulai dari pengembang material hingga perajin memiliki peran krusial.

Pendidikan pun menjadi kunci utama dalam memperkuat ekosistem ini, baik bagi desainer, pelajar, maupun masyarakat luas agar lebih menghargai nilai dari sebuah karya. Dengan tradisi tekstil yang kaya dan keahlian kriya yang mendalam, Indonesia memiliki potensi besar untuk mendunia tanpa kehilangan akar budaya yang menjadi kekuatan utamanya.

Prospek Ekonomi Sektor Fesyen dan Kriya

Besarnya potensi industri ini tercermin dari data Kementerian Perindustrian melalui Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka, Reni Yanita. Hingga Triwulan I 2026, nilai PDB sektor fesyen dan kriya tercatat mencapai Rp120,13 triliun, yang menunjukkan tren pertumbuhan positif sebesar 7,89% dibandingkan periode sebelumnya.

Angka ini menjadi bukti nyata bahwa pasar fesyen Indonesia terus berkembang dan siap untuk bersaing di tingkat global. Tantangan terbesarnya kini adalah bagaimana membawa identitas unik tersebut ke panggung internasional tanpa harus tergerus oleh tren global yang cepat berubah.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Strategi Mendunia Tanpa Kehilangan Akar dalam Industri Fesyen Indonesia
  • Strategi Mendunia Tanpa Kehilangan Akar dalam Industri Fesyen Indonesia
  • Strategi Mendunia Tanpa Kehilangan Akar dalam Industri Fesyen Indonesia
  • Strategi Mendunia Tanpa Kehilangan Akar dalam Industri Fesyen Indonesia
  • Strategi Mendunia Tanpa Kehilangan Akar dalam Industri Fesyen Indonesia
  • Strategi Mendunia Tanpa Kehilangan Akar dalam Industri Fesyen Indonesia

Posting Komentar