Kebakaran Lahan Picu Lonjakan Pasien Gangguan Napas di RSUD Ulin Banjarmasin
RADARGORONTALO.COM - Banjarmasin – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ulin Banjarmasin, Kalimantan Selatan, mencatat peningkatan signifikan jumlah pasien rawat inap dengan gangguan pernapasan. Data rumah sakit per September 2026 menunjukkan lonjakan sebesar 47,6 persen dibandingkan bulan Juli di tahun yang sama. Jika pada Juli tercatat 164 pasien, angka tersebut merangkak naik menjadi 242 pasien di bulan September.
Peningkatan drastis ini terjadi bersamaan dengan meluasnya kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah di Kalimantan Selatan.
Asap pekat akibat karhutla diduga kuat menjadi penyebab utama meningkatnya kasus penyakit pernapasan di kalangan masyarakat.
Pneumonia Mendominasi Kasus Gangguan Napas
Dari total pasien rawat inap yang mengalami gangguan pernapasan, penyakit pneumonia menjadi diagnosis yang paling banyak ditemukan.
Kasi Pelayanan Medik Rawat Jalan RSUD Ulin Banjarmasin, Helmina, menjelaskan bahwa peningkatan ini tidak hanya pada satu jenis penyakit, tetapi juga pada pasien Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) dan asma.
“Peningkatan ini sudah kami lihat dengan jelas.
Kami mengambil data bulan Juli 2026 sebagai patokan awal (baseline), karena pada saat itu belum terjadi karhutla yang masif di Kalsel,” ujar Helmina dalam keterangannya pada Jumat, 16 Oktober 2026.
Pada bulan Juli, jumlah pasien gangguan pernapasan yang dirawat inap adalah 164 orang.
Angka ini kemudian naik tipis menjadi 167 pasien pada Agustus sebelum melonjak tajam ke 242 pasien di bulan berikutnya.
Secara persentase, jumlah pasien pada September mengalami kenaikan 47,6 persen jika dibandingkan dengan Juli, dan 44,9 persen jika dibandingkan dengan Agustus.
Peningkatan ini mengindikasikan dampak langsung dari buruknya kualitas udara akibat asap karhutla.
Pneumonia, PPOK, dan Asma Mengalami Kenaikan
Analisis data RSUD Ulin menunjukkan bahwa pneumonia menjadi penyebab utama lonjakan ini.
Jumlah penderita pneumonia yang harus menjalani rawat inap meningkat dari 137 orang pada Juli menjadi 202 orang pada September.
Angka ini menyumbang sekitar 83 persen dari seluruh pasien gangguan pernapasan yang dirawat inap selama periode tersebut.
Selain pneumonia, kondisi pasien PPOK juga menunjukkan tren peningkatan.
Data mencatat adanya kenaikan dari 15 pasien di bulan Juli menjadi 26 pasien di bulan September.
Lebih spesifik lagi, kasus PPOK yang mengalami perburukan atau eksaserbasi akut bertambah dari tujuh menjadi 13 kasus.
Sementara itu, pasien penderita asma juga mengalami kenaikan dari 12 menjadi 14 orang pada periode yang sama.
Dampak Karhutla Meluas ke Kelompok Usia Anak
Helmina menambahkan bahwa dampak peningkatan jumlah pasien gangguan pernapasan tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, tetapi juga kelompok usia anak.
Kunjungan pasien anak yang membutuhkan perawatan di rumah sakit meningkat pesat.
Menurut Helmina, jumlah pasien berusia 2 hingga 17 tahun mengalami kenaikan hingga tiga kali lipat.
Lebih memprihatinkan lagi, pasien bayi di bawah dua tahun menunjukkan peningkatan hingga 90 persen selama periode perbandingan tersebut.
Hal ini menegaskan kerentanan sistem pernapasan anak terhadap polusi udara akibat asap.
Situasi ini sejalan dengan catatan Kementerian Kesehatan yang hingga Oktober 2026 mendata 277.075 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di 63 kabupaten/kota yang tersebar di tujuh provinsi.
Meskipun tren kasus ISPA di Kota Banjarmasin sendiri dilaporkan mulai menunjukkan penurunan pada minggu ke-37 dan ke-38, data dari RSUD Ulin masih mencerminkan beban kesehatan yang signifikan akibat dampak karhutla di wilayah Kalimantan Selatan.

Posting Komentar