Ad

Unismuh Fasilitasi Hilal, Sinergi Metode Penentuan Idul Fitri 1447 H

Beda Metode, Tetap Bersinergi: Unismuh Kembali Buka Observatorium untuk Pemantauan Hilal
Unismuh Fasilitasi Hilal, Sinergi Metode Penentuan Idul Fitri 1447 H

RADARGORONTALO.COM - Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar kembali menunjukkan komitmennya terhadap toleransi dan sinergi antar-metode dalam penentuan awal bulan Hijriah. Meskipun Pimpinan Pusat Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, berdasarkan metode hisab Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), Unismuh tetap membuka pintu observatoriumnya untuk memfasilitasi pelaksanaan rukyatul hilal yang diselenggarakan oleh pemerintah.

Langkah konkret ini ditegaskan dalam rapat koordinasi yang intensif pada Selasa, 17 Maret 2026. Pertemuan strategis ini diselenggarakan di Ruang Rapat Senat, lantai 17 Gedung Iqra, Unismuh Makassar. Rapat tersebut dihadiri oleh jajaran pimpinan Unismuh, termasuk Wakil Rektor II Dr. Ihyani Malik dan Wakil Rektor IV Dr. Mawardi Pewangi, serta perwakilan penting dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Dr. Nurdin.

Menghormati Perbedaan Metode

Bagi Unismuh, partisipasi dalam kegiatan rukyatul hilal pemerintah bukanlah berarti mengabaikan keputusan organisasi induknya. Muhammadiyah tetap teguh pada ketetapan resminya yang menetapkan Hari Raya Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026, berlandaskan perhitungan hisab KHGT. Fasilitasi terhadap metode rukyat pemerintah dipandang sebagai wujud pelayanan kelembagaan, keterbukaan di bidang akademik, serta penghormatan terhadap keragaman cara dalam menentukan awal bulan dalam kalender Islam.

Observatorium Unismuh Makassar dijadwalkan menjadi lokasi utama pemantauan hilal untuk menentukan awal Syawal 1447 H. Kegiatan pemantauan ini direncanakan akan berlangsung pada Kamis, 19 Maret 2026, bertempat di fasilitas observatorium yang terletak di lantai 18 Menara Iqra.

Persiapan Teknis yang Matang

Rapat koordinasi tersebut membahas secara mendalam berbagai aspek teknis pelaksanaan rukyatul hilal. Fokus utama meliputi kesiapan peralatan observasi yang canggih, pengaturan kapasitas ruangan yang memadai, serta penataan logistik bagi para tamu undangan. Selain itu, dibahas pula mengenai penempatan posisi teleskop yang optimal, penentuan area alternatif untuk pemantauan, hingga distribusi konsumsi bagi peserta yang akan berbuka puasa.

Evaluasi terhadap pengalaman pemantauan awal Ramadan sebelumnya menjadi dasar penting dalam perencanaan ini. Tingginya antusiasme peserta pada kegiatan sebelumnya menjadi indikator bahwa jumlah tamu yang hadir untuk pemantauan 1 Syawal 1447 H diprediksi akan kembali besar. Tamu yang diundang meliputi berbagai unsur penting, termasuk perwakilan pemerintah, akademisi, organisasi Islam, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Pengadilan Agama, Majelis Ulama Indonesia (MUI), serta awak media dari tingkat lokal hingga nasional.

Kenyamanan dan Ketertiban Peserta Menjadi Prioritas

Wakil Rektor II Unismuh, Dr. Ihyani Malik, menekankan urgensi rapat koordinasi ini demi mengantisipasi seluruh aspek teknis pelaksanaan sejak dini. Beliau menyatakan, "Pengalaman sebelumnya menunjukkan peserta yang hadir sangat banyak. Karena itu, kita perlu memastikan pengaturan ruang, distribusi tamu, dan kenyamanan seluruh peserta benar-benar dipersiapkan lebih matang."

Menghormati Perbedaan Metode

Dr. Ihyani menambahkan bahwa suasana pemantauan hilal menjelang Idul Fitri memiliki kekhasan tersendiri karena berlangsung saat peserta masih menjalankan ibadah puasa. Oleh karena itu, aspek pelayanan yang prima tidak dapat dipisahkan dari kesiapan teknis. "Jangan sampai kegiatan yang penting ini justru menyulitkan tamu. Kita ingin semua yang hadir merasa nyaman, tertib, dan bisa mengikuti proses rukyat dengan baik," tandasnya.

Perwakilan dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan, Dr. Nurdin, turut menegaskan pentingnya koordinasi teknis. Ia menjelaskan bahwa pemantauan hilal selalu melibatkan banyak unsur dan mendapatkan perhatian publik yang luas. "Pelaksanaan rukyatul hilal bukan sekadar agenda seremonial, tetapi bagian dari proses resmi yang perlu didukung kesiapan tempat, kelancaran alur peserta, dan keterbukaan informasi," ujarnya.

Menyikapi potensi keterbatasan ruang di observatorium, panitia juga merencanakan penggunaan area alternatif di lantai 17 Gedung Iqra. Area ini akan dilengkapi dengan layar pemantau agar peserta tetap dapat menyaksikan proses rukyat secara langsung. Detail lain seperti penataan ulang posisi teleskop, pengaturan area VIP, serta mekanisme pelabelan kursi juga menjadi perhatian serius dalam rapat tersebut.

Dasar Hisab Muhammadiyah: Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT)

Di tengah persiapan teknis yang dilakukan, Unismuh kembali menegaskan posisi Muhammadiyah mengenai penetapan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Menurut Wakil Rektor IV Unismuh, Dr. Mawardi Pewangi, penetapan ini didasarkan pada metode hisab menggunakan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

KHGT merupakan sistem kalender Islam yang memandang bumi sebagai satu kesatuan matlak (area cakrawala). Dalam sistem ini, penentuan awal bulan Hijriah dimulai secara serentak di seluruh dunia apabila kriteria astronomis tertentu telah terpenuhi di salah satu kawasan bumi. Kriteria KHGT menyatakan bahwa bulan baru dimulai jika sebelum pukul 24.00 UTC, telah terpenuhi elongasi hilal minimal 8 derajat dan tinggi hilal minimal 5 derajat saat matahari terbenam.

Data astronomis untuk Syawal 1447 H menunjukkan bahwa ijtimak (konjungsi bulan dan matahari) terjadi pada Kamis, 19 Maret 2026, pukul 01.23.28 UTC. Lokasi pertama yang memenuhi parameter astronomis, yaitu dengan tinggi bulan 6,49 derajat dan elongasi 8 derajat, tercatat pada koordinat 64° 59′ 57,47″ LU dan 42° 3′ 3,47″ BT. Bahkan di Makkah, parameter global ini juga terpenuhi, dengan tinggi bulan geosentrik +06° 09′ 09″ dan elongasi geosentrik 08° 05′ 24″ saat matahari terbenam.

Oleh karena itu, bagi Muhammadiyah, penetapan Idul Fitri pada Jumat merupakan konsekuensi logis dari perhitungan astronomis yang telah memenuhi kriteria KHGT secara global. Sikap Unismuh dalam menyikapi perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah ini bukanlah hal baru, terbukti pada penetapan awal Ramadan 1447 H, di mana puasa dimulai pada Rabu, 18 Februari 2026, sesuai ketetapan Muhammadiyah berbasis KHGT, sembari tetap memfasilitasi rukyatul hilal pemerintah.

Sinergi dalam Keberagaman

Prinsip KHGT menekankan bahwa penentuan awal bulan tidak semata-mata dibatasi oleh horizon lokal. Artinya, jika di suatu wilayah hilal belum terlihat atau masih di bawah ufuk, awal bulan tetap dapat dimulai apabila parameter astronomis global telah terpenuhi di wilayah lain di bumi. Hal ini menunjukkan bahwa keputusan Idul Fitri pada Jumat adalah hasil ilmiah yang terukur, bukan keputusan sembarangan.

Pesan terpenting dari seluruh persiapan ini adalah sinergi yang terjalin meski ada perbedaan metode. Muhammadiyah berpegang teguh pada hasil hisab globalnya, sementara pemerintah menjalankan mekanisme rukyatul hilal dan sidang isbat. Perbedaan ini tidak menjadi penghalang, melainkan diatasi dengan rasa saling menghormati. Fasilitasi yang diberikan Unismuh menunjukkan bahwa konsistensi terhadap prinsip dapat berjalan selaras dengan keterbukaan dan pelayanan kepada pihak lain.



Ditulis oleh: Sri Wahyuni

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Unismuh Fasilitasi Hilal, Sinergi Metode Penentuan Idul Fitri 1447 H
  • Unismuh Fasilitasi Hilal, Sinergi Metode Penentuan Idul Fitri 1447 H
  • Unismuh Fasilitasi Hilal, Sinergi Metode Penentuan Idul Fitri 1447 H
  • Unismuh Fasilitasi Hilal, Sinergi Metode Penentuan Idul Fitri 1447 H
  • Unismuh Fasilitasi Hilal, Sinergi Metode Penentuan Idul Fitri 1447 H
  • Unismuh Fasilitasi Hilal, Sinergi Metode Penentuan Idul Fitri 1447 H

Posting Komentar