Angklung Sedulur: Seni Musik Jawa Barat yang Unik di Gorontalo
RADARGORONTALO.COM - Di tengah hiruk pikuk Kota Gorontalo, sebuah penampilan musik yang tak biasa menarik perhatian warga. Empat pemuda berseragam batik rapi dan celana panjang memainkan alat musik angklung, menciptakan harmoni merdu yang menghibur. Grup musik yang menamakan diri mereka Angklung Sedulur ini sengaja datang dari Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat, untuk berbagi keindahan musik tradisional ini di tanah Hulondalo.
Keempat seniman muda tersebut adalah Mitun, Puyuk, Tresno, dan Tono. Bagi warga Kota Gorontalo, kehadiran grup musik angklung seperti Angklung Sedulur ini merupakan fenomena yang unik dan menyegarkan. Meskipun di kota-kota besar di luar Gorontalo pertunjukan musik angklung mungkin bukan hal baru, namun di daerah berjuluk Serambi Madinah ini, suara angklung yang dimainkan secara langsung adalah pemandangan langka yang disambut antusias.
Perjalanan Jauh Empat Seniman Cirebon
Perjalanan Angklung Sedulur untuk mencapai Gorontalo tidaklah sebentar. Mereka telah melintasi berbagai kota di Indonesia Timur sebelum akhirnya tiba di Gorontalo. Menurut Mitun, salah satu personel grup, mereka telah berada di Kota Gorontalo selama empat hari. Namun, ini bukanlah kali pertama mereka menyambangi wilayah yang kaya akan tradisi keislaman ini.
Mitun menjelaskan rute perjalanan mereka dalam sebuah wawancara yang dilakukan pada Rabu, 10 Januari 2024. "Sebelum ke Gorontalo, kami ke Kota Bau Bau, lalu ke Kendari, setelah itu ke Sengkang, Wajo, Palu. Dari Palu lanjut ke sini," ungkap Mitun.
Rencana mereka selanjutnya adalah melanjutkan perjalanan ke Bitung. Setelah menyelesaikan penampilan di Bitung, barulah mereka akan kembali ke kampung halaman mereka di Jawa Barat. Perjalanan panjang ini menunjukkan dedikasi dan semangat para seniman muda dalam memperkenalkan dan melestarikan alat musik tradisional.
Angklung: Warisan Seni Sejak Dini
Kecintaan pada angklung telah tumbuh dalam diri keempat pemuda ini sejak mereka masih kecil. Mereka tumbuh dan dibesarkan di lingkungan yang kental dengan seni, sehingga bermain angklung menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian mereka. Awalnya, penampilan mereka hanya terbatas pada acara-acara kampung atau undangan hajatan.
Namun, seiring waktu, mereka menyadari bahwa pendapatan dari penampilan lokal belum mencukupi untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka berempat. Keputusan untuk merantau dan mencari penghidupan dari mengamen menggunakan angklung pun diambil sebagai langkah untuk mengembangkan potensi dan meningkatkan taraf ekonomi.
Pembagian Peran dalam Grup Angklung Sedulur
Dalam setiap penampilannya, Angklung Sedulur memiliki pembagian peran yang layaknya sebuah grup musik profesional. Mitun berperan sebagai pemain angklung utama, menghasilkan melodi-melodi indah yang memikat pendengar. Puyuk bertugas memainkan alat musik ritmis, tripok, yang memberikan irama dasar pada setiap lagu.
Mas Tresno, dengan keahliannya, mengendalikan gendang, instrumen yang menjadi tulang punggung irama dalam berbagai genre musik tradisional Indonesia. Sementara itu, Tono bertindak sebagai penerima saweran atau donasi dari para penikmat musik yang terhibur oleh penampilan mereka. Pembagian peran yang jelas ini menunjukkan profesionalisme dan kerjasama tim yang baik.
Tanggapan Antusias Warga Gorontalo
Kehadiran Angklung Sedulur di Kota Gorontalo disambut dengan hangat oleh masyarakat. Banyak warga yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pertunjukan musik mereka. Salah satu tempat di mana mereka menghibur warga adalah di sebuah rumah makan di Kota Gorontalo, di mana pengunjung yang sedang menikmati santapan terhanyut dalam alunan merdu angklung.
Mitun mengungkapkan rasa syukurnya atas sambutan positif yang mereka terima. "Kalau lagi ramai kita seharinya bisa dapat Rp100 ribu perorang, tapi kalau tidak terlalu ramai, biasanya hanya dapat Rp70 ribu perorang," jelas Mitun mengenai estimasi pendapatan mereka.
Jumlah tersebut, meskipun bervariasi, mencerminkan apresiasi masyarakat terhadap seni yang mereka sajikan. Antusiasme ini menjadi motivasi tersendiri bagi Angklung Sedulur untuk terus bersemangat dalam menjalankan profesi mereka sebagai seniman musafir.
Angklung: Alat Musik Tradisional yang Menyatukan Budaya
Angklung sendiri merupakan alat musik tradisional Sunda yang terbuat dari rangkaian bambu yang dipotong sedemikian rupa sehingga menghasilkan nada tertentu saat digoyangkan. Keunikan angklung terletak pada cara memainkannya yang membutuhkan kekompakan antar pemain untuk menghasilkan harmoni yang indah.
Melalui penampilan mereka di Gorontalo, Angklung Sedulur tidak hanya menghibur, tetapi juga berperan dalam mengenalkan kekayaan budaya Indonesia kepada masyarakat di daerah yang berbeda. Pertukaran budaya semacam ini sangat penting untuk memperkaya khazanah seni dan mempererat persatuan bangsa.
Kehadiran Angklung Sedulur di Gorontalo menjadi bukti bahwa seni memiliki kekuatan untuk melintasi batas geografis dan menyatukan berbagai elemen masyarakat. Dengan alat musik sederhana namun sarat makna, mereka berhasil membawa keceriaan dan kehangatan di Kota Gorontalo.
Perjalanan mereka dari Jawa Barat ke berbagai kota di Indonesia Timur ini adalah cerminan dari semangat juang para seniman muda yang terus berupaya menghidupkan dan melestarikan warisan budaya bangsa. Harapannya, penampilan seperti ini dapat terus terselenggara dan memberikan inspirasi bagi generasi muda untuk mencintai dan berkarya di bidang seni tradisional.
Tanya Jawab Seputar Grup Musik Angklung Sedulur
Pertanyaan yang Sering Diajukan
-
Siapa saja anggota grup musik Angklung Sedulur?
Anggota grup musik Angklung Sedulur adalah Mitun, Puyuk, Tresno, dan Tono.
-
Dari mana asal grup musik Angklung Sedulur?
Grup musik Angklung Sedulur berasal dari Kabupaten Cirebon, Provinsi Jawa Barat.
-
Kapan grup musik Angklung Sedulur berada di Kota Gorontalo?
Grup musik Angklung Sedulur telah berada di Kota Gorontalo selama empat hari, dan wawancara dilakukan pada Rabu, 10 Januari 2024.
-
Apa saja alat musik yang dimainkan oleh grup Angklung Sedulur?
Grup ini memainkan alat musik angklung, tripok, dan gendang. Tono bertugas menerima saweran.
-
Bagaimana pendapatan harian grup Angklung Sedulur saat mengamen?
Pendapatan harian mereka bervariasi, sekitar Rp100 ribu per orang saat ramai, dan sekitar Rp70 ribu per orang saat sepi.

Posting Komentar