Ad

IHSG Ambruk di 2026: Harta Konglomerat RI Rontok, Ini Daftar Terbarunya

IHSG Ambruk di 2026: Harta Konglomerat RI Rontok, Ini Daftar Terbarunya
IHSG Ambruk di 2026: Harta Konglomerat RI Rontok, Ini Daftar Terbarunya

RADARGORONTALO.COM - Pasar modal Indonesia tengah berada dalam tekanan hebat yang memicu penurunan drastis pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan sesi pertama hari ini, IHSG terkoreksi tajam sebesar 206,81 poin atau setara dengan 3,48 persen ke posisi 5.734,26.

Performa ini semakin memperburuk catatan kinerja pasar saham Indonesia sepanjang tahun 2026. Sejak awal tahun, indeks telah mencatatkan pelemahan akumulatif yang cukup mengkhawatirkan hingga mencapai 33,68 persen.

Guncangan ini menciptakan efek domino yang memukul portofolio kekayaan para konglomerat di tanah air. Mengingat sebagian besar aset mereka tersimpan dalam instrumen saham, fluktuasi indeks berdampak langsung pada valuasi bersih para taipan tersebut.

Dampak Koreksi Pasar Terhadap Kekayaan Taipan

Prajogo Pangestu menjadi sosok yang paling terdampak oleh guncangan pasar modal kali ini. Meskipun masih memegang predikat orang terkaya di Indonesia, peringkat globalnya di Forbes melorot tajam ke urutan 178 dunia.

Kekayaan bos petrokimia tersebut kini tersisa US$16,4 miliar setelah mengalami penyusutan sebesar 8,23 persen dalam kurun waktu satu hari. Penurunan ini memicu gelombang kekhawatiran serupa bagi para pengusaha besar lainnya di berbagai sektor industri.

Daftar penurunan kekayaan meliputi tokoh besar seperti Low Tuck Kwong yang hartanya turun tipis 0,44 persen menjadi US$14,2 miliar. Sementara itu, pemilik Grup Djarum Robert Budi Hartono harus merelakan hartanya berkurang sebesar 7,53 persen menjadi US$13,8 miliar.

Dampak Koreksi Pasar Terhadap Kekayaan Taipan

Dampak kerugian juga dirasakan oleh Anthoni Salim yang mencatatkan penurunan aset sebesar 4,31 persen ke level US$10,1 miliar. Sri Prakash Lohia dari Indorama juga mengalami koreksi sebesar 0,05 persen dengan total kekayaan mencapai US$8,6 miliar.

Tidak hanya mereka, Tahir dan Keluarga sebagai pemilik Grup Mayapada mencatatkan penurunan kekayaan cukup dalam yakni 6,21 persen menjadi US$8,3 miliar. Bos Grup Harita, Lim Hariyanto Wijaya Sarwono, juga mengalami penyusutan aset sebesar 4,33 persen hingga menjadi US$4,2 miliar.

Fenomena ini membuktikan betapa besarnya pengaruh fluktuasi indeks saham terhadap valuasi kekayaan bersih para pengusaha dalam waktu yang singkat. Namun, di tengah aksi jual masif, terdapat beberapa nama yang justru berhasil mencatatkan kenaikan nilai aset mereka.

Anomali Pasar: Siapa yang Bertahan?

Tokoh teknologi Indonesia, Otto Toto Sugiri, berhasil mencatatkan kenaikan harta sebesar 0,40 persen menjadi US$7,8 miliar. Rekan bisnisnya di DCI Indonesia, Marina Budiman, turut mengikuti tren positif dengan kenaikan aset sebesar 0,42 persen menjadi US$5,6 miliar.

Sukanto Tanoto yang memimpin Royal Golden Eagle menjadi satu-satunya nama dalam daftar sepuluh besar yang hartanya cenderung stabil. Nilai kekayaannya tidak mengalami perubahan signifikan di tengah badai koreksi IHSG pekan ini dan tetap bertahan di angka US$4,1 miliar.

Secara keseluruhan, kondisi pasar modal Indonesia saat ini menunjukkan volatilitas yang sangat tinggi bagi para investor. Situasi ini menuntut kewaspadaan ekstra mengingat nilai aset dapat berubah drastis dalam hitungan jam mengikuti pergerakan bursa yang tidak menentu.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • IHSG Ambruk di 2026: Harta Konglomerat RI Rontok, Ini Daftar Terbarunya
  • IHSG Ambruk di 2026: Harta Konglomerat RI Rontok, Ini Daftar Terbarunya
  • IHSG Ambruk di 2026: Harta Konglomerat RI Rontok, Ini Daftar Terbarunya
  • IHSG Ambruk di 2026: Harta Konglomerat RI Rontok, Ini Daftar Terbarunya
  • IHSG Ambruk di 2026: Harta Konglomerat RI Rontok, Ini Daftar Terbarunya
  • IHSG Ambruk di 2026: Harta Konglomerat RI Rontok, Ini Daftar Terbarunya

Posting Komentar