Ad

Bahaya Terlalu Lama Duduk: Ini Dampak Seriusnya bagi Otak dan Tubuh

Ini yang Terjadi pada Tubuh Jika Terlalu Lama Duduk, Otak Bisa Terdampak
Bahaya Terlalu Lama Duduk: Ini Dampak Seriusnya bagi Otak dan Tubuh

RADARGORONTALO.COM - Olahraga sering kali dibicarakan secara luas karena manfaat fisiknya bagi otot dan kesehatan jantung. Namun, jarang disadari bahwa otak manusia juga sangat bergantung pada aktivitas fisik rutin untuk dapat berfungsi secara optimal.

Sebaliknya, ketika seseorang berhenti bergerak atau menghabiskan sebagian besar waktu hariannya dengan duduk, dampak negatifnya terhadap kondisi emosional dapat muncul dalam waktu singkat. Masalahnya, banyak orang tidak menyadari bahwa kebiasaan minim aktivitas inilah yang sebenarnya memicu penurunan performa kognitif mereka.

Gangguan Aliran Darah dan Neurokimia

Dikutip dari laman Real Simple, Manisha Parulekar, MD, seorang spesialis geriatri dan wakil direktur Center for Memory Loss and Brain Health di Hackensack University Medical Center, memberikan penjelasan penting. Ketika seseorang menghabiskan waktu di luar jam tidur dengan duduk dan bersantai, otak dapat mengalami penurunan aliran darah yang signifikan.

Padahal, aliran darah yang optimal sangat dibutuhkan tubuh untuk memasok oksigen serta nutrisi penting bagi fungsi kerja otak. Kondisi ini pada gilirannya menyebabkan penurunan produksi zat kimia otak vital yang mengatur suasana hati, seperti serotonin dan dopamin.

Dampak Langsung pada Energi dan Suasana Hati

Dampak langsung dari kurangnya aktivitas fisik biasanya tidak terlihat secara kasat mata, melainkan lebih terasa melalui perubahan kondisi tubuh. Menurut Dr. Parulekar, beristirahat total seharian tanpa gerak memang terkadang terasa menyegarkan bagi tubuh yang lelah.

Namun, kondisi tersebut tidak memberikan dorongan dopamin dan endorfin yang secara alami muncul setelah melakukan aktivitas fisik. "Terkadang satu hari bersantai itu terasa menyegarkan, tetapi dalam banyak kasus, hal itu membuat orang merasa lesu dan kekurangan energi," ujar Parulekar.

Setelah seharian bermalas-malasan, seseorang cenderung merasa kurang termotivasi, mudah tersinggung, dan lesu. Selain itu, mereka mungkin merasakan kesulitan dalam berkonsentrasi pada tugas yang harus diselesaikan, meskipun efek ini biasanya bersifat sementara.

Gangguan Aliran Darah dan Neurokimia

Risiko Kognitif Jangka Panjang dan Kesehatan Otak

Ketika duduk dan minim aktivitas fisik menjadi kebiasaan sehari-hari, dampaknya terhadap otak dapat menjadi sangat signifikan dan mengganggu kemampuan mengingat. Ahli neurologi David Perlmutter, MD, menyatakan bahwa hubungan antara kurangnya aktivitas fisik dengan penurunan kesehatan otak semakin kuat didukung oleh berbagai penelitian.

"Kurangnya aktivitas fisik dikaitkan dengan peningkatan risiko penurunan kognitif dan demensia, dan banyak jalur yang membantu menjelaskan hubungan tersebut bersifat metabolik dan inflamasi," jelas Dr. Perlmutter.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam penelitiannya adalah pengaruh aktivitas fisik terhadap mikroglia, yaitu sel kekebalan yang berada di dalam otak. Menurut Dr. Perlmutter, mikroglia berperan sebagai pelindung otak dengan terus memantau kondisi di sekitarnya dan merespons berbagai ancaman.

"Perilaku mereka terkait erat dengan keadaan metabolisme mereka, yang berarti fungsi mitokondria mereka," tambahnya mengenai mekanisme perlindungan seluler tersebut. Lingkungan metabolisme yang sehat membantu sel-sel ini menjalankan perannya, sementara disfungsi metabolisme kronis justru berkontribusi pada keadaan peradangan yang lebih parah.

Pentingnya Bergerak untuk Kesejahteraan Mental

Kebiasaan hidup kurang gerak dalam jangka panjang juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental dengan cara yang lebih serius dan persisten. Dr. Parulekar menegaskan bahwa gaya hidup sedenter ini dikaitkan dengan kemungkinan yang lebih besar untuk mengalami kondisi kesehatan mental, seperti depresi dan kecemasan.

Di sisi lain, penelitian tahun 2022 yang diterbitkan dalam British Journal of Sports Medicine memberikan bukti kuat mengenai manfaat gerakan tubuh. Studi tersebut menunjukkan bahwa lebih banyak bergerak terbukti mendukung kesehatan mental dengan mengurangi gejala depresi dan kecemasan secara efektif.

Penting untuk diingat bahwa olahraga tidak berarti menggantikan penanganan kesehatan mental oleh profesional jika dibutuhkan. Namun, meningkatkan aktivitas fisik harian bisa menjadi salah satu cara yang ampuh untuk membantu memperbaiki suasana hati dan mendukung kesejahteraan emosional secara menyeluruh.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Bahaya Terlalu Lama Duduk: Ini Dampak Seriusnya bagi Otak dan Tubuh
  • Bahaya Terlalu Lama Duduk: Ini Dampak Seriusnya bagi Otak dan Tubuh
  • Bahaya Terlalu Lama Duduk: Ini Dampak Seriusnya bagi Otak dan Tubuh
  • Bahaya Terlalu Lama Duduk: Ini Dampak Seriusnya bagi Otak dan Tubuh
  • Bahaya Terlalu Lama Duduk: Ini Dampak Seriusnya bagi Otak dan Tubuh
  • Bahaya Terlalu Lama Duduk: Ini Dampak Seriusnya bagi Otak dan Tubuh

Posting Komentar