Ad

Pascagempa Flores: Anak-Anak Asrama di Labuan Bajo Masih Bertahan di Tenda Darurat

Pascagempa, Anak-Anak Penghuni Asrama di Labuan Bajo Masih Takut Kembali ke Gedung
Pascagempa Flores: Anak-Anak Asrama di Labuan Bajo Masih Bertahan di Tenda Darurat

RADARGORONTALO.COM - Dua pekan setelah gempa bumi mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), kondisi memprihatinkan masih terlihat nyata di Asrama Biata Maria Helena Stollenwerk, Labuan Bajo, Manggarai Barat. Puluhan anak yang menghuni asrama tersebut hingga saat ini masih memilih untuk menetap di tenda-tenda darurat demi menghindari risiko jika terjadi gempa susulan.

Kondisi psikologis para siswa masih sangat terguncang, sehingga mereka belum berani untuk kembali beraktivitas maupun tidur di dalam gedung asrama yang bersifat permanen. Situasi ini semakin memilukan mengingat banyak dari anak-anak tersebut tinggal berjauhan dari keluarga, bahkan beberapa di antaranya merupakan anak yatim piatu yang kehilangan tumpuan utama.

Upaya Trauma Healing oleh Kepolisian

Melihat kondisi tersebut, Polres Manggarai Barat segera mengambil tindakan preventif dengan berkolaborasi bersama BKO Tim Psikologi Polda Jawa Tengah untuk memberikan pendampingan intensif. Tim gabungan ini berfokus pada pemberian *trauma healing* guna memulihkan kesehatan mental anak-anak agar perlahan bisa kembali merasa aman.

Dalam sesi pendampingan tersebut, anak-anak diajak untuk bernyanyi, bermain gim kelompok, hingga menjalani sesi konseling ringan yang dirancang untuk mengurangi kecemasan. Mereka juga diajak mengikuti berbagai kegiatan di luar lingkungan asrama untuk mengalihkan pikiran dari rasa trauma selama berada di area pengungsian yang terbatas.

Kepedulian dan Dukungan Polres Manggarai Barat

Kapolres Manggarai Barat, AKBP Christian Kadang, menjelaskan bahwa pihaknya sangat memahami kondisi traumatis yang dialami oleh para penghuni asrama. Menurutnya, trauma akibat gempa bumi memang menjadi hambatan utama yang membuat anak-anak merasa takut untuk kembali beraktivitas maupun tidur di dalam bangunan permanen.

Pada Minggu (30/8) pagi, AKBP Christian Kadang menuturkan bahwa kepolisian telah merancang kegiatan khusus seperti berkeliling Kota Labuan Bajo menggunakan kendaraan patroli polisi. Inisiatif ini sengaja dirancang untuk memberikan suasana baru yang menyegarkan bagi para siswa agar kejenuhan mereka selama berminggu-minggu di pengungsian dapat berkurang secara signifikan.

Upaya Trauma Healing oleh Kepolisian

Kondisi Kesehatan dan Bantuan Logistik

Selain pendampingan psikologis, tim medis juga dikerahkan untuk memeriksa kesehatan anak-anak dan pengurus asrama yang masih bertahan di tenda darurat secara rutin. Upaya medis ini bertujuan untuk memantau dan memastikan kondisi fisik mereka tetap terjaga di tengah keterbatasan fasilitas selama masa tanggap darurat pascabencana.

Polres Manggarai Barat juga secara aktif menyalurkan berbagai bantuan logistik berupa sembako dan obat-obatan yang sangat dibutuhkan oleh para penghuni asrama. Distribusi bantuan ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian nyata untuk menjamin kebutuhan pokok para penyintas terpenuhi selama masa pemulihan berlangsung.

Apresiasi dari Pihak Asrama

Suster Kepala Asrama Biata Maria Helena Stollenwerk, Sr. Tatiana Tatu Wadang, SSpS., menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas perhatian dan dukungan yang diberikan oleh aparat kepolisian. Beliau mengungkapkan bahwa pendampingan *trauma healing* sangat membantu anak-anak dalam mengatasi ketakutan dan rasa cemas yang mereka alami pascagempa.

Atas nama seluruh anak-anak penghuni asrama, Sr. Tati memberikan apresiasi tinggi kepada Polri, khususnya Polres Manggarai Barat, yang terus hadir mendampingi para korban bencana. Beliau juga berterima kasih atas bantuan logistik dan hiburan yang diberikan, karena sangat meringankan beban yang dipikul oleh para pengurus dan siswa.

Komitmen Pemantauan Berkelanjutan

Pihak Polres Manggarai Barat berkomitmen untuk terus melakukan pemantauan berkala ke Asrama Biata Maria Helena Stollenwerk selama masa pemulihan bencana. Petugas akan memastikan kondisi tenda darurat yang masih digunakan para penghuni tetap layak serta memeriksa perkembangan kondisi mental anak-anak secara berkelanjutan.

Secara keseluruhan, proses pemulihan pascagempa di Flores memang membutuhkan waktu dan proses bertahap yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan. Pemerintah bersama aparat keamanan terus berupaya memastikan seluruh lapisan masyarakat, termasuk anak-anak di daerah terpencil dan asrama, mendapatkan perhatian yang memadai hingga situasi benar-benar kembali normal.

Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Pascagempa Flores: Anak-Anak Asrama di Labuan Bajo Masih Bertahan di Tenda Darurat
  • Pascagempa Flores: Anak-Anak Asrama di Labuan Bajo Masih Bertahan di Tenda Darurat
  • Pascagempa Flores: Anak-Anak Asrama di Labuan Bajo Masih Bertahan di Tenda Darurat
  • Pascagempa Flores: Anak-Anak Asrama di Labuan Bajo Masih Bertahan di Tenda Darurat
  • Pascagempa Flores: Anak-Anak Asrama di Labuan Bajo Masih Bertahan di Tenda Darurat
  • Pascagempa Flores: Anak-Anak Asrama di Labuan Bajo Masih Bertahan di Tenda Darurat

Posting Komentar