Sopir Logistik Gorontalo 'Terjebak' Antrean BBM, Kiriman Terlambat
RADARGORONTALO.COM - Gorontalo - Aktivitas pengiriman logistik di Kota Gorontalo dilaporkan mengalami hambatan signifikan akibat antrean panjang kendaraan yang terjadi di sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU). Salah satu titik yang terpantau padat adalah SPBU CocoPertamina7196101 di Kelurahan Tamalate, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo. Situasi ini tidak hanya menimbulkan nestapa bagi para sopir logistik yang jadwal pengantaran mereka menjadi molor, tetapi juga berdampak pada kelancaran usaha warga sekitar.
Antrean yang membentang dari pintu masuk SPBU hingga meluas ke jalan raya, kerap kali menutupi akses ke rumah makan, warung, dan berbagai jenis usaha mikro lainnya di kawasan Tamalate.
Kondisi ini menimbulkan dilema bagi pengusaha lokal yang menggantungkan pendapatan dari lalu lintas pelanggan.
Keterlambatan pengiriman barang akibat lamanya sopir menunggu giliran mengisi bahan bakar juga menjadi kerugian beruntun yang dirasakan.
Penyebab Penumpukan: Sanksi SPBU Lain
Menurut keterangan dari Kepala Shift SPBU CocoPertamina7196101 Tamalate, Yanto Moli, penumpukan kendaraan ini merupakan imbas dari penutupan sementara dua SPBU lain di Kota Gorontalo yang sedang menjalani sanksi. “Ini juga karena ada 2 SPBU yang ditutup, ya mereka pindah ke sini bagi sebagian masyarakat yang antre,” ungkap Yanto, menjelaskan bahwa lonjakan volume kendaraan yang mencari bahan bakar terkonsentrasi di SPBU yang masih beroperasi.
Situasi ini menciptakan tantangan besar bagi petugas di lapangan.
Meskipun SPBU CocoPertamina7196101 telah membuka beberapa jalur pelayanan, termasuk dua jalur khusus mobil dan dua jalur untuk Pertamax, serta melayani sepeda motor sesuai ketentuan, panjangnya antrean membuat pengaturan lalu lintas menjadi pekerjaan yang sangat berat.
Pihak SPBU sendiri telah menyiagakan petugas keamanan (security) untuk membantu mengelola arus kendaraan.
Keterbatasan Petugas dan Pengaruhnya pada Lalu Lintas
“Kalau antrean panjang, kami juga terganggu.
Pengusaha-pengusaha di sekitar sini ikut terganggu karena antrean bisa menutupi toko dan akses lainnya,” ujar Yanto, menggarisbawahi dampak sosial dan ekonomi dari fenomena ini.
Ia menambahkan bahwa meskipun petugas keamanan berupaya mencegah penumpukan di satu titik, kondisi di lapangan seringkali di luar kendali ketika volume kendaraan terus bertambah.
Untuk mengurai kemacetan dan memastikan ketertiban, aparat kepolisian bersama pihak terkait dikabarkan sempat turun tangan membantu mengatur antrean kendaraan di kawasan SPBU Tamalate.
Upaya ini menunjukkan bahwa persoalan antrean BBM ini telah menjadi perhatian lintas sektoral, mengingat dampaknya yang luas.
Fluktuasi Pasokan BBM dan Dampak pada Ketersediaan
Dalam menghadapi lonjakan permintaan ini, ketersediaan pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) di SPBU tersebut juga menjadi isu yang perlu diperhatikan.
Yanto Moli mengakui bahwa terkadang pasokan BBM yang tersedia bisa habis sebelum pergantian hari.
Namun, di lain kesempatan, stok yang tersedia masih mencukupi hingga hari berikutnya.
Fluktuasi pasokan ini menambah kompleksitas dalam memastikan kebutuhan BBM masyarakat, terutama bagi sektor vital seperti logistik, tetap terpenuhi secara konsisten.
Di tengah situasi yang penuh tantangan ini, petugas di lapangan terus berupaya memastikan penyaluran BBM tetap berjalan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.
Namun, tak dapat dipungkiri, antrean panjang yang dipicu oleh penutupan SPBU lain telah menciptakan mata rantai kerugian, mulai dari sopir logistik yang jadwalnya terganggu, hingga pengusaha lokal yang usahanya terhambat.
Solusi jangka pendek dan panjang yang melibatkan koordinasi antar pihak terkait sangat diharapkan untuk mengatasi nestapa yang dirasakan oleh para pekerja di sektor logistik Gorontalo.

Posting Komentar