Teripang Hitam Gorontalo: Sumber Antioksidan Kuat dari Laut?
RADARGORONTALO.COM - Gorontalo - Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh sivitas akademika Universitas Negeri Gorontalo (UNG) mengungkap potensi signifikan teripang hitam (Holothuria atra) yang berasal dari perairan Desa Lamu, Gorontalo, sebagai sumber antioksidan dengan aktivitas yang sangat kuat. Temuan ini membuka peluang baru dalam eksplorasi sumber daya hayati laut Indonesia untuk aplikasi kesehatan.
Aktivitas Antioksidan Unggul dari Ekstrak Metanol
Dalam analisis fitokimia dan aktivitas antioksidannya, ekstrak teripang hitam yang diolah menggunakan pelarut metanol menunjukkan hasil yang menonjol. Pengujian spesifik menggunakan metode DPPH mencatat nilai Inhibitory Concentration 50% (IC50) sebesar 29,18 parts per million (ppm). Nilai IC50 yang lebih rendah ini mengindikasikan bahwa konsentrasi ekstrak yang lebih sedikit diperlukan untuk menetralkan radikal bebas, yang merupakan indikator kuat dari aktivitas antioksidan yang efektif. Angka ini lebih baik dibandingkan ekstrak yang dihasilkan dari pelarut etil asetat dan n-heksan.
Metodologi Penelitian dan Kandungan Senyawa
Penelitian berjudul “Analisis Fitokimia dan Aktivitas Antioksidan Teripang Hitam (Holothuria atra) dengan Pelarut Berbeda” ini dipublikasikan dalam Jambura Fish Processing Journal (JFPJ), Volume 8 Nomor 1 Tahun 2026, pada halaman 36 hingga 48. Tim peneliti yang terdiri dari Muhammad Andika, Lukman Mile, dan Iin Susilawati Lantu dari Jurusan Teknologi Hasil Perikanan, Fakultas Kelautan dan Teknologi Perikanan (FKTP) UNG, berhasil mengidentifikasi keragaman senyawa bioaktif dalam teripang tersebut. Mereka menggunakan enam kilogram teripang hitam yang dikumpulkan dari perairan Gorontalo. Proses ekstraksi dilakukan menggunakan metode maserasi dengan tiga jenis pelarut yang memiliki polaritas berbeda: metanol (polar), etil asetat (semipolar), dan n-heksan (nonpolar). Hasil rendemen ekstrak yang diperoleh bervariasi, dengan metanol menghasilkan persentase tertinggi sebesar 45 persen, diikuti oleh n-heksan sebesar 32,5 persen, dan etil asetat sebesar 27,5 persen.
Identifikasi Senyawa Kunci
Pengujian fitokimia lebih lanjut mengungkap perbedaan komposisi senyawa pada setiap ekstrak.
Ekstrak metanol diketahui mengandung flavonoid, alkaloid, triterpenoid, dan saponin.
Sementara itu, ekstrak etil asetat kaya akan flavonoid dan alkaloid, sedangkan ekstrak n-heksan terdeteksi mengandung alkaloid dan fenol.
Uniknya, senyawa steroid tidak terdeteksi pada ketiga jenis ekstrak yang diuji dalam penelitian ini.
Potensi dan Keterbatasan Temuan
Temuan mengenai aktivitas antioksidan yang kuat dari teripang hitam Gorontalo ini tentu menjanjikan.
Flavonoid, alkaloid, triterpenoid, dan saponin yang teridentifikasi dikenal memiliki berbagai khasiat biologis, termasuk sebagai agen antioksidan.
Namun, para peneliti menekankan bahwa hasil laboratorium ini masih bersifat awal.
Potensi sebagai sumber senyawa bioaktif yang kuat telah terbukti, tetapi manfaat kesehatannya pada manusia belum dapat dibuktikan secara langsung dari studi ini.
Diperlukan penelitian lebih lanjut, termasuk uji klinis, untuk mengkonfirmasi efektivitas dan keamanan teripang hitam sebagai suplemen atau bahan pengobatan bagi manusia.
Langkah Selanjutnya dalam Riset
Artikel ilmiah ini dapat diakses melalui Digital Object Identifier (DOI) 10.37905/jfpj.v8i1.30150, memungkinkan para ilmuwan lain untuk meninjau dan mengembangkan temuan ini.
Peneliti berharap riset ini dapat menjadi dasar untuk penelitian lanjutan mengenai pemanfaatan teripang hitam, tidak hanya sebagai sumber antioksidan tetapi juga senyawa bioaktif lainnya yang berpotensi untuk pengembangan produk farmasi dan kosmetik di masa depan, sembari tetap menjaga kelestarian sumber daya laut Gorontalo.

Posting Komentar