Tulang Cumi Jadi Hand Sanitizer? Mahasiswa Gorontalo Ungkap Hasil Uji
RADARGORONTALO.COM - Gorontalo -- Bagian cangkang keras yang lazim ditemukan dalam tubuh cumi-cumi, atau yang dikenal sebagai tulang sotong, ternyata menyimpan potensi ilmiah yang signifikan. Sekelompok mahasiswa dan peneliti dari Universitas Negeri Gorontalo (UNG) telah berhasil mengujinya sebagai bahan baku utama dalam formulasi semprotan hand sanitizer. Penelitian ini mengungkapkan bahwa kitosan, senyawa yang diekstraksi dari tulang sotong, menunjukkan kemampuan menghambat pertumbuhan bakteri patogen seperti Escherichia coli (E. coli).
Eksplorasi Kitosan dari Limbah Cumi-Cumi
Dalam upaya memanfaatkan sumber daya alam yang sering terbuang, tim peneliti UNG yang terdiri dari Febriyanti Rasyid, Asri Silvana Naiu, dan Lukman Mile, melakukan studi mendalam. Tulang sotong yang biasanya tidak dikonsumsi setelah pengolahan cumi-cumi, melalui serangkaian tahapan proses kimiawi. Tahapan tersebut meliputi deproteinasi untuk menghilangkan protein, demineralisasi untuk menghilangkan mineral, dan deasetilasi untuk menghasilkan senyawa kitosan. Kitosan inilah yang kemudian menjadi fokus utama dalam pengembangan alternatif hand sanitizer.
Potensi Antibakteri dengan Tiga Konsentrasi Berbeda
Hasil penelitian, yang dipublikasikan dalam jurnal Industria: Jurnal Teknologi dan Manajemen Agroindustri Volume 14 Nomor 1 Tahun 2025, halaman 37–52, menunjukkan hasil yang menjanjikan. Kitosan diolah menjadi tiga formula semprotan dengan konsentrasi yang bervariasi: 5 persen, 10 persen, dan 15 persen. Masing-masing formula kemudian diuji kemampuannya dalam menghambat pertumbuhan bakteri E. coli di laboratorium. Ketiga konsentrasi tersebut terbukti mampu menciptakan zona hambat, sebuah area di mana pertumbuhan bakteri tertekan.
Formula 15 Persen Unggul dalam Hambatan Bakteri
Data pengujian laboratorium mengungkapkan bahwa formula dengan konsentrasi kitosan tertinggi, yaitu 15 persen, menghasilkan zona hambat terbesar.
Zona hambat pada konsentrasi 15 persen mencapai rata-rata 25,43 milimeter.
Sementara itu, formula 10 persen menunjukkan zona hambat rata-rata 22,03 milimeter, dan formula 5 persen mencatat zona hambat rata-rata 9,07 milimeter.
Analisis statistik pun mengonfirmasi adanya perbedaan daya hambat yang signifikan antara ketiga formula tersebut, menunjukkan korelasi positif antara peningkatan konsentrasi kitosan dan efektivitas antibakteri.
Kendala Kekentalan dan pH Menjadi Tantangan
Meskipun menunjukkan potensi antibakteri yang kuat, penelitian ini juga menyoroti beberapa kendala yang masih dihadapi sebelum produk ini dapat dikomersialkan.
Formula 15 persen, meskipun paling efektif dalam menghambat bakteri, memiliki tingkat kekentalan yang cukup tinggi, yaitu mencapai 4.517 centipoise (cP).
Kekentalan ini perlu menjadi perhatian serius terkait karakteristik semprotan agar tetap nyaman digunakan.
Di sisi lain, formula 10 persen dengan kekentalan rata-rata 2.917 cP dinilai oleh peneliti sebagai opsi yang lebih seimbang, menawarkan efektivitas yang baik sambil menjaga properti produk yang lebih dapat diterima.
Selain masalah kekentalan, pH formulasi juga menjadi faktor yang masih perlu dioptimalkan. Kedua kendala ini, kekentalan dan pH, menjadikan formulasi yang dihasilkan belum sepenuhnya siap untuk dipasarkan sebagai produk hand sanitizer komersial. Lebih lanjut, penelitian ini membuka jalan bagi pengembangan produk kesehatan berbasis biopolimer lokal, sekaligus memberikan solusi pemanfaatan limbah laut.

Posting Komentar