Festival Gendang Sahur Ternate: Lestarikan Tradisi Islam di Akhir Ramadhan
RADARGORONTALO.COM - Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate, Maluku Utara, bersiap menggelar Festival Gendang Sahur sebagai salah satu upaya strategis untuk melestarikan warisan tradisi Islam yang kental selama bulan suci Ramadhan. Kegiatan ini diharapkan dapat memperkaya khazanah budaya dan memperkuat nilai-nilai keagamaan di masyarakat.
Menurut Kabag Humas dan Protokoler Pemkot Ternate, Sutopo Abdullah, festival ini dijadwalkan berlangsung pada akhir bulan Ramadhan. Acara puncak akan dipusatkan di Dhuafa Center, menampilkan grup-grup gendang sahur terbaik dari seluruh kecamatan di Ternate. Penyelenggaraan festival ini menandai komitmen Pemkot dalam menjaga keberlangsungan tradisi yang memiliki nilai historis dan spiritual tinggi.
Asal Usul dan Makna Gendang Sahur
Festival Gendang Sahur berakar dari sebuah tradisi masyarakat Ternate dalam membangunkan warga untuk melaksanakan santap sahur. Tradisi ini dilakukan dengan menggunakan alat musik tradisional, terutama rebana, sembari melantunkan lagu-lagu bernuansa Islami. Lirik lagu bisa berbahasa daerah Maluku Utara maupun Bahasa Indonesia, menyesuaikan dengan tema dan pesan yang ingin disampaikan kepada masyarakat.
Alunan rebana dan nyanyian Islami menjadi penanda waktu sahur, mengingatkan umat Muslim untuk bersiap melanjutkan ibadah puasa di hari berikutnya. Gendang sahur bukan sekadar pemanggil, melainkan juga sarana syiar Islam yang efektif, terutama di kalangan generasi muda, agar mereka tetap terhubung dengan nilai-nilai agama dan kearifan lokal.
Potensi Wisata Religi dan Upaya Pemkot
Sutopo Abdullah mengungkapkan optimismenya bahwa Festival Gendang Sahur memiliki potensi besar untuk menjadi daya tarik wisata religi di Ternate. Bagi wisatawan yang kebetulan berkunjung ke Maluku Utara pada akhir Ramadhan, festival ini bisa menjadi pengalaman spiritual yang unik dan berkesan. Pemkot Ternate berupaya menjadikan tradisi ini sebagai bagian dari kalender pariwisata daerah.
Penyelenggaraan festival tahunan ini merupakan wujud nyata komitmen Pemkot Ternate dalam menjaga identitas keislaman daerahnya. Dengan mengangkat kembali tradisi ini ke permukaan melalui sebuah festival, diharapkan semangat kebersamaan dan kecintaan terhadap ajaran Islam semakin tumbuh di hati masyarakat.
Melestarikan Tradisi Lain: Lomba Ela-Ela
Selain Festival Gendang Sahur, Pemkot Ternate juga aktif melestarikan tradisi Islam lainnya, salah satunya adalah lomba ela-ela. Tradisi ini memiliki kekhasan tersendiri dalam menyambut malam Lailatul Qadar, malam seribu bulan yang sangat dinanti oleh umat Muslim. Partisipasi aktif dari seluruh kelurahan di Pulau Ternate menjadi kunci dalam pelaksanaannya.
Ritual ela-ela telah mengakar kuat dalam kebudayaan masyarakat Ternate sejak zaman dahulu. Tradisi ini dilakukan dengan menyalakan obor atau lampu teplok (loga-loga) di halaman rumah dan sepanjang jalan kampung. Selain itu, pembakaran wewangian seperti damar atau dupa turut menyemarakkan suasana, menciptakan atmosfer spiritual yang khusyuk menjelang malam Lailatul Qadar.
Penilaian Lomba Ela-Ela yang Kritis
Dalam upaya melestarikan ela-ela, Pemkot Ternate menggelar lomba khusus yang penilaiannya mencakup beberapa aspek penting. Penilaian tidak hanya berdasarkan tingkat partisipasi masyarakat di setiap kelurahan, tetapi juga pada kemeriahan dan keindahan tampilan obor, loga-loga, serta lentera (lampiun) yang dipasang. Hal ini mendorong kreativitas masyarakat dalam menampilkan tradisi leluhur mereka.
Kriteria penilaian yang komprehensif ini diharapkan dapat memotivasi warga untuk lebih antusias dalam menjalankan dan melestarikan tradisi ela-ela. Dengan demikian, nilai-nilai spiritual dan kebersamaan yang terkandung di dalamnya dapat terus terjaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
Tradisi Tadarusan dan Perannya di Bulan Ramadhan
Lebih lanjut, Sutopo Abdullah menambahkan bahwa tradisi tadarusan atau pembacaan Al Quran secara rutin juga terus dilestarikan oleh masyarakat Ternate selama bulan Ramadhan. Kegiatan ini dilaksanakan di setiap masjid dan musala, dimulai sejak hari pertama puasa hingga akhir bulan. Tadarusan melibatkan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari kalangan remaja, orang tua, hingga kaum perempuan, menunjukkan inklusivitas dalam mengamalkan ajaran Islam.
Tadarusan menjadi momen penting untuk memperdalam pemahaman Al Quran dan meningkatkan kualitas spiritual di bulan penuh berkah ini. Kebersamaan dalam membaca dan merenungkan ayat-ayat suci Al Quran memperkuat ikatan sosial dan keagamaan di antara jemaah.
Secara keseluruhan, Pemkot Ternate menunjukkan komitmen yang kuat dalam menjaga dan mempromosikan tradisi-tradisi Islam yang sarat makna. Melalui festival dan lomba seperti Gendang Sahur dan Ela-Ela, serta dukungan terhadap kegiatan tadarusan, Ternate berupaya menjaga warisan budaya sambil memperkaya pengalaman spiritual warganya di bulan Ramadhan.
Kegiatan ini tidak hanya penting untuk pelestarian budaya, tetapi juga memiliki potensi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga tradisi yang telah diwariskan. Dengan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, tradisi-tradisi ini akan terus hidup dan berkembang.
Festival Gendang Sahur dan lomba ela-ela menjadi contoh bagaimana pemerintah daerah dapat berperan dalam melestarikan kearifan lokal yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan. Inisiatif seperti ini patut diapresiasi dan didukung agar keberlangsungannya dapat terus terjaga di tahun-tahun mendatang.
Pemerintah Kota Ternate terus berinovasi dalam memperkenalkan dan mengembangkan tradisi-tradisi Islam kepada masyarakat luas. Harapannya, kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa bangga akan warisan budaya dan agama.
Dukungan dan partisipasi masyarakat sangat krusial demi kesuksesan dan keberlanjutan tradisi-tradisi ini. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci utama dalam menjaga kelestarian budaya leluhur.
Festival Gendang Sahur ini diharapkan menjadi agenda rutin yang tidak hanya dinikmati oleh warga Ternate, tetapi juga menarik perhatian wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, yang ingin merasakan atmosfer Ramadhan yang otentik.
Upaya Pemkot Ternate ini mencerminkan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan modern dan pelestarian nilai-nilai tradisi yang luhur.
Dengan semangat kebersamaan, tradisi Gendang Sahur dan Ela-Ela akan terus hidup sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Ternate di bulan Ramadhan.

Posting Komentar