Guru Gorontalo Ungkap Isu Krusial Program Makan Bergizi Gratis di Sekolah
RADARGORONTALO.COM - Gorontalo – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah sekolah di Kota Gorontalo menghadapi sorotan dari para pendidik. Dua guru, Fadlia Ismail dari MIS Al-Mourky dan Maryam Simbala dari SD Negeri 56 Kota Timur, membagikan pengalaman mereka mengenai variasi menu, ketepatan waktu pengiriman, serta pentingnya menindaklanjuti masukan dari pihak sekolah. Meskipun mengakui adanya aspek positif dan perbaikan layanan, kedua guru ini menekankan perlunya perhatian lebih pada kualitas dan keberagaman sajian makanan yang diterima siswa.
Program MBG yang bertujuan memberikan asupan gizi tambahan bagi siswa ini telah berjalan di MIS Al-Mourky sejak tahun 2025.
Fadlia Ismail, salah seorang guru di institusi tersebut, menyatakan bahwa sekolahnya telah merasakan manfaat program ini sejak awal diluncurkan.
Ia menambahkan bahwa sekitar lebih dari 400 siswa dan guru terdaftar sebagai penerima manfaat di sekolahnya.
Dinamika Pengiriman dan Distribusi Makanan
Menurut Fadlia, jadwal pengiriman makanan MBG umumnya berlangsung pada pagi hari, sekitar pukul 08.00 WITA.
Namun, ia mencatat bahwa terkadang terdapat keterlambatan hingga pukul 09.00 WITA.
Untuk meminimalkan gangguan terhadap proses belajar mengajar, distribusi makanan dilakukan setelah jam pelajaran utama selesai.
"Program MBG ini menurut saya tidak mengganggu, karena disesuaikan dengan pembelajaran yang ada di dalam kelas.
Misalnya, sudah selesai menulis atau sudah selesai semuanya, baru MBG-nya didistribusikan di masing-masing kelas," jelasnya.
Perhatian pada Variasi Menu dan Kandungan Gizi
Salah satu poin yang disoroti oleh Fadlia adalah variasi menu yang disajikan.
Ia menyebutkan bahwa makanan yang diterima seringkali disertai dengan informasi mengenai kandungan gizinya.
Selain itu, menu tersebut juga dilengkapi dengan buah-buahan lokal seperti pisang dan melon.
"Menurut saya sudah sesuai standar gizi, karena masing-masing SPPG itu sudah ada ahli gizinya.
Ada informasi tentang gizi, jadi kita bisa membaca protein hewani dan kandungan lainnya," ungkapnya.
Fadlia juga melaporkan respons positif dari orang tua siswa, di mana sebagian siswa bahkan membawa bekal sendiri untuk menyimpan sisa makanan agar dapat dibawa pulang.
Kebutuhan Perbaikan Layanan dan Tindak Lanjut Masukan
Pengalaman berbeda namun tak kalah penting diutarakan oleh Maryam Simbala, guru kelas I di SD Negeri 56 Kota Timur.
Sekolahnya telah menerima program MBG selama kurang lebih dua tahun terakhir.
Selama periode tersebut, sekolahnya bahkan pernah mengalami pergantian penyedia layanan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Hal ini mengindikasikan bahwa sistem penyediaan layanan MBG dapat mengalami penyesuaian seiring waktu.
"Kualitas layanan dan makanan tetap perlu diperhatikan," tegasnya, menyiratkan bahwa perbaikan berkelanjutan sangat dibutuhkan.
Fadlia menyampaikan harapannya agar program MBG dapat terus berlanjut, sembari lebih memperhatikan kebutuhan spesifik siswa dan kondisi lingkungan sekolah.
"Saran saya, program MBG ini agar tetap terus berlanjut ke depannya, karena menurut saya sangat-sangat bermanfaat bagi siswa.
Bukan cuma siswa saja, tetapi juga masyarakat yang ada di lingkungan sekolah," tuturnya.
Tinjauan dari kedua guru ini, yang berasal dari dua sekolah berbeda, memberikan gambaran awal mengenai implementasi program MBG di Kota Gorontalo.
Namun, perlu dicatat bahwa pengalaman mereka belum tentu mencerminkan kondisi keseluruhan pelaksanaan program di semua sekolah di wilayah tersebut.
Variasi menu, rasa makanan, ketepatan waktu pengiriman, dan respons terhadap umpan balik dari sekolah menjadi elemen krusial yang perlu terus dievaluasi untuk memaksimalkan manfaat program ini bagi para siswa.

Posting Komentar